It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
"Halo Andrea, apa kabar?"
"Baik."
"Bagaimana kuliahnya."
"Menyenangkan." (sambil tersenyum lebar)
"Waaahhh … jadi tergugah untuk kuliah lagi."
Begitulah biasanya dialog yang terjadi ketika orang-orang bertemu saya. Tapi sekarang ceritanya akan berbeda. Memasuki semester 3, UPH ternyata memulai perkuliahan lebih awal, di minggu ke-2 Juli. Beberapa mahasiswa sudah komplain dengan alasan 14 Juli itu adalah Sabtu terakhir sebelum awal tahun ajaran baru sehingga pasti ada berbagai kegiatan di sekolah, mulai dari kebaktian awal tahun ajaran sampai seminar dan lokakarya untuk guru. Tetapi kuliah ternyata jalan terus.
Pada 14 Juli itu saya tidak kuliah karena ada beberapa kegiatan di sekolah, dari pagi hari hingga sore hari. Rencananya pada minggu ketiga perkuliahan saya juga tidak hadir karena ada retret SMA/SMK. Datanglah saya pada minggu kedua.
Benar-benar mengejutkan! Memang saya sudah mengetahui bahwa jatah perkuliahan semester itu adalah 12 sks dengan 1 sks = 15-17 pertemuan @ 50 menit yang berarti setiap Sabtu saya akan ada sesi tatap muka sebanyak 12 × 50 menit = 600 menit atau 10 jam! Yup, that’s a solid 10 hours! Di samping itu masih ada pula waktu makan siang sekitar 30-60 menit dan waktu untuk bimbingan tesis. Walah ….
Tapi ternyata 10 jam yang di atas kertas dan 10 jam yang dihidupi benar-benar berbeda. Benar-benar melelahkan! Belum lagi, ditambah dengan dosen-dosen dengan karakteristik yang tidak seperti biasanya … perkuliahannya sangat ketat, dua di antara dosen-dosennya adalah profesor. Ditambah pula ada mata kuliah yang agak di luar "yang biasanya" sehingga rasa kebaruan itu benar-benar nyata ….
Alhasil, saya tidak berani izin lagi untuk minggu ketiga. Tidak pernah rasanya perkuliahan begitu menakutkan dan tanggal merah begitu melegakan …. Fyuh ….
Tapi, memasuki minggu ketiga, ternyata kuliahnya sudah lumayan OK, sepertinya saya sudah mulai bisa beradaptasi nih … mudah-mudahan semuanya tetap baik-baik saja
Minggu 15 Juli 2007. Seperti biasanya hari Minggu pertama, kedua dan ketiga, badan pengurus Pemuda Gereja Kristus Ketapang (BP PGK) mengadakan pertemuan seusai ibadah sehingga berakhir larut malam, biasanya sekitar pk. 22.00-22.30 saya meninggalkan gereja.
Malam itu saya meninggalkan gereja pk. 22.00. Cukup awal. Biasanya saya mendengarkan radio, tapi karena ada banyak hal yang ingin saya pikirkan maka radio tidak saya nyalakan. Bukannya berpikir, malah jadi mengantuk. Di Arteri Pondok Indah ada penyempitan jalan sehingga hanya menjadi satu lajur. Di depan ada truk sangat besar berisi bahan-bahan pembangunan jalan. Di sisi kanan ada proyek pembangunan sehingga dibuat pembatas jalan dan dipagari dengan seng.
Saya sedang melaju perlahan, hanya gigi dua, mungkin sekitar 20-30 kpj, tiba-tiba … duarrr!!! saya menemukan mobil saya sudah melewati pembatas jalan di sebelah kanan, menabrak deretan seng itu hingga penyok.
Awalnya ada mobil yang ingin berhenti, sepertinya ingin memberikan pertolongan, tapi tidak jadi. Kemudian ada satu pengemudi sepeda motor yang berbaik hati, beserta empat orang yang mungkin memang berasal dari sekitar situ membantu mengangkat mobil saya hingga bisa dimundurkan dan ditepikan. Sang pengemudi sepeda motor segera melanjutkan perjalanannya. Saya bahkan tidak sampai sempat mengucapkan terima kasih kepadanya.
Keempat orang lainnya, seperti sudah bisa diduga, memang di satu sisi berniat membantu, tetaip di sisi lain juga oportunis. Mereka terdiri dari dua orang yang memang tinggal di daerah proyek dan tidak punya pekerjaan dan dua lagi kebetulan lewat. Akhirnya saya meninggalkan Karimun saya di tepi jalan itu dan berjalan bersama salah satu dari mereka untuk mencari peralatan karena di mobil hanya ditemukan ban serep dan dongkrak tapi kunci-kuncinya tidak berhasil ditemukan (konon ada di bawah jok pengemudi, tersimpan begitu rapinya di dalam plastik di bawah karpet sehingga orang bengkel pun tidak berhasil menemukannya).
Dalam kepanikan, saya menelepon Antony. Segera ia dan papanya berangkat. Sementara itu saya gagal mendapatkan peralatan yang dibutuhkan karena semua orang di mana-mana memang mata duitan. Maunya melihat duitnya dulu baru mau membantu, sedangkan saat itu saya hanya membawa sekitar Rp30 ribu di dompet. Pk. 22.15 Antony dan papanya tiba dengan semua peralatan yang dibutuhkan. Sangat lengkap, luar biasa!
Yang sangat mengagumkan, saat Jazz mereka menepi, papanya Antony keluar dari mobil membawa HT besar dan menyangklokkannya pada sabuknya … momen yang luar biasa! Kelihatan sekali efek psikologisnya pada orang-orang yang ada di situ.
Beberapa saat mobil dikutak-katik, ban diganti, dalam waktu 10 menit semuanya beres, berikutnya saatnya bernegosiasi. Kedua orang yang cuma lewat diberi Rp10 ribu dan mereka langsung pergi. Yang dua lagi agak merepotkan. Akhirnya mereka bersedia menerima Rp150 ribu dengan dalih tangan mereka sakit dan perlu mengganti seng yang ditabrak (padahal tinggal diketok-ketok saja).
Kami berjalan beriringan, Karimun dan Jazz, dan setelah beberapa meter kembali menepi di sebuah tempat parkir toko yang sudah tutup, karena ternyata as depan sudah bengkok dan antara roda kiri, roda kanan serta setir, ketiganya tidak ada yang sinkron! Agak lama perbaikan yang kali ini, mungkin sekitar 1 jam, kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan perlahan-lahan. Di tengah perjalanan persneling mulai menunjukkan tanda-tanda aneh: bergetar hebat dengan bunyi yang keras pula. Akhirnya saya didampingi papanya Antony sementara Antony mengemudi sendirian.
Kami tiba di rumah pk. 02.30. Berikutnya tinggal urusan asuransi. Saya pergi kerja pagi-pagi, hanya 1 jam, kemudian pulang untuk mengurus mobil derek dari asuransi yang sudah dipesan sebelumnya. Sejauh ini semuanya berjalan cukup lancar. Mudah-mudahan waktu perbaikannya tidak terlalu lama dan mobil diantar kembali sampai di rumah kelak.
Sebenarnya di hari-hari ini saya sudah terlalu letih, banyak sekali kegiatan yang menguras energi, baik fisik maupun pikiran … sudah 2 kali pula saya tertidur di balik kemudi dan 1 kali lampu lalu lintas terlewat dan hampir tertangkap polisi. Tetapi rupanya saya kurang cepat belajar dan kurang tanggap terhadap kondisi diri sendiri …. Pada saat kejadian saya kurang menyadari rasa kantuk saya dibanding kedua kali yang sebelumnya. Saya pun menyalakan AC, menutup jendela rapat-rapat dan tidak menyalakan radio … benar-benar suasana yang dibuat nyaman untuk tidur!
Mudah-mudahan selanjutnya semuanya berjalan lancar dan tidak memakan waktu. Pengalaman yang menegangkan. Mudah-mudahan juga, tidak akan terulang lagi dengan cara bagaimana pun juga.
Yang jelas, untuk beberapa minggu (atau bahkan bulan) ke depan saya tidak akan membawa mobil di malam hari dulu. Kalau ada kegiatan malam, mungkin lebih baik dihindari atau mencari tempat menginap daripada meresikokan diri seperti itu lagi.
People change. Sometimes for the better, other time for the worse. It’s a bad, bad thing if someone you care so much about change for the worse. The loss is unutterable. But the hurt has been done.
We expect some people to change, we expect some to stay the same. But they just don’t. Why? Because we’re not God. If only we could programme people … but that’s the uniqueness of humanity, isn’t it?
And that’s also one big reason why humanity changes courses at unprecedented times and through unintelligible reasons. Because we’re humans.
Salah satu rencana liburan saya adalah menghabiskan 3 hari 2 malam di almamater saya, STT Cipanas. Untuk apa? Untuk menyegarkan kembali diri saya. Dengan cara apa? Dengan membenamkan diri di perpustakaan. Hah? Petugas administrasi yang saya hubungi di STT Cipanas sampai bertanya-tanya. Apa tidak salah? "Kok refreshing-nya begitu sih? Kalau saya mah bisa-bisa tambah stres, kalau refreshing-nya begitu …" ujarnya.
Ya, ada beberapa masalah dengan Hakim-Hakim dan ketertarikan saya (yang mungkin agak esoterik hehe …) terhadap beberapa topik di Perjanjian Lama. Dan untuk memuaskan ketertarikan yang esoterik itu, cara yang terbaik adalah dengan menghabiskan waktu di perpustakaan. Dan di mana lagi, kalau bukan di Perpustakaan STT Cipanas? Kekayaan buku biblikanya ditambah dengan sistem perpustakaan terbukanya, membuat saya merasa sangat nyaman di situ.
Rencana berubah. Saya hanya bisa menghabiskan satu hari di situ karena tiba terlalu sore di hari Kamis (perpustakaan tutup di hari Sabtu). Yang lebih mengesalkan, ternyata petugas perpustakaan tiba terlambat 40 menit! Tanpa rasa bersalah, dia mengatakan habis kendurian dulu pagi-pagi sebelum ke kantor. Astaga … kerja atau kerja ini? Seharusnya saya punya 7 jam hari itu, pk. 08-12 dan pk. 13-16 karena perpustakaan tutup 1 jam untuk makan siang. Ternyata setelah istirahat makan siang pun bukanya terlambat lagi, walaupun hanya sekitar 5 menit … tetapi tentunya mereka istirahat makan siang dan tutup pada sore harinya tepat waktu.
Sumber-sumber yang saya cari pun tidak saya temukan secara memadai. Mungkin memang minat saya terlalu esoterik ya …. Hmmmhhh … agak susah juga nih kalau begini ….
Tapi selama di sana saya jadi terkenang masa-masa lalu dan tergugah untuk kembali menekuni studi teologia di tingkat yang lebih lanjut. Mungkin M.Th.? Atau M.Litt.? Haha … sudahlah, itu harus dilupakan, nanti tidak jelas kapan mau fokus berkaryanya, lagipula itu kan sudah pernah digumulkan … saya akan meneruskan studi di bidang ilmu pendidikan, bukan di teologia.
Saya kembali juga tergugah untuk berlangganan jurnal-jurnal Perjanjian Lama … tapi memang harganya sangat mahal. Satu kesimpulan saya: gaya studi saya sudah harus berubah, tidak bisa lagi terlalu mengandalkan buku-buku teks, tetapi harus beralih kepada jurnal-jurnal. Juga, tidak bisa terlalu mengandalkan karya orang lain tetapi harus pandai-pandai mengasah keterampilan diri sendiri untuk mengadakan penelitian, untuk mengorek, mempelajari Alkitab hingga detail. Untuk studi yang agak-agak esoterik ini, pertama-tama hati saya sendiri harus dijaga dengan sangat waspada, jangan sampai menyimpang.
Jadi berikutnya, saya tidak mungkin lagi ke perpustakaan dengan beberapa ketetarikan esoterik saya lantas mengharapkan akan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Saya harus terlebih dulu mengadakan studi pribadi secara mendalam, baru lantas membandingkan dan mendiskusikan hasilnya. Nampaknya itulah yang harus terjadi selanjutnya.
Maka pergumulannya adalah bagaimana mewujudkan itu semua, menyelenggarakan bentuk kehidupan dan disiplin monastik dalam kehidupan sehari-hari, demi pengenalan yang lebih baik terhadap Tuhan dan terhadap Firman-Nya. Jangan sampai ketertarikan dan rasa penasaran itu malah membahayakan kehidupan rohani sendiri; sebaliknya, itu harus membangun dan menempa diri secara kuat dan kokoh.
Berbeda dengan persepsi banyak orang, kenyataannya pekerjaan saya tidak mengizinkan saya banyak berlibur. Tahun ini saya mendapat libur 5 hari. Ya, 5 hari! Bandingkan dengan jatah cuti standar yang 12 hari per tahun. Sedikit bukan?
Di tengah-tengah masa libur ini, masih saja ada cukup banyak kegiatan yang harus saya lakukan. Sulit sekali mendapatkan kesempatan beristirahat di hari-hari ini kalau bukan dengan mengoptimalkan kesempatan di hari Minggu pagi. Sampai-sampai saya harus terus mengingatkan diri saya, "Dre, ini hari libur. Santailah. Beristirahatlah."
Semalam saya baru kembali ke Jakarta menjelang tengah malam. Lusa saya sudah harus berangkat lagi, menempuh perjalanan selama 6 jam ke luar kota. Hari ini rencananya saya mau berolahraga, tapi mengingat padatnya jadwal minggu depan, rasanya lebih baik hari ini dimanfaatkan untuk tidur-tidur, makan, membaca-baca beberapa buku, melakukan beberapa persiapan akhir untuk sesi-sesi yang akan saya bawakan minggu mendatang.
Rasanya agak tidak nyaman berlibur dengan cara seperti ini, apalagi kalau mengingat bahwa persis di penghujung masa liburan ini masih ada tagihan-tagihan yang harus dibayar, sudah harus langsung masuk kuliah, berbarengan pula dengan masuk kembali ke sekolah. Mungkin memang untuk benar-benar menikmati liburan saya harus mencari tempat yang jauh dari keramaian dan pusat aktivitas, tempat yang asri, hening, tapi tentunya harus terjangkau oleh listrik, sinyal seluler dan Internet. Haha … dasar orang metropolis! Mau liburan saja, susah sekali ….
Yah, mungkin sebaiknya sekarang saya mulai mengangan-angankan seperti apa seharusnya liburan saya yang berikutnya, supaya bisa benar-benar menikmati liburan idaman saya ….