It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Minggu 15 Juli 2007. Seperti biasanya hari Minggu pertama, kedua dan ketiga, badan pengurus Pemuda Gereja Kristus Ketapang (BP PGK) mengadakan pertemuan seusai ibadah sehingga berakhir larut malam, biasanya sekitar pk. 22.00-22.30 saya meninggalkan gereja.
Malam itu saya meninggalkan gereja pk. 22.00. Cukup awal. Biasanya saya mendengarkan radio, tapi karena ada banyak hal yang ingin saya pikirkan maka radio tidak saya nyalakan. Bukannya berpikir, malah jadi mengantuk. Di Arteri Pondok Indah ada penyempitan jalan sehingga hanya menjadi satu lajur. Di depan ada truk sangat besar berisi bahan-bahan pembangunan jalan. Di sisi kanan ada proyek pembangunan sehingga dibuat pembatas jalan dan dipagari dengan seng.
Saya sedang melaju perlahan, hanya gigi dua, mungkin sekitar 20-30 kpj, tiba-tiba … duarrr!!! saya menemukan mobil saya sudah melewati pembatas jalan di sebelah kanan, menabrak deretan seng itu hingga penyok.
Awalnya ada mobil yang ingin berhenti, sepertinya ingin memberikan pertolongan, tapi tidak jadi. Kemudian ada satu pengemudi sepeda motor yang berbaik hati, beserta empat orang yang mungkin memang berasal dari sekitar situ membantu mengangkat mobil saya hingga bisa dimundurkan dan ditepikan. Sang pengemudi sepeda motor segera melanjutkan perjalanannya. Saya bahkan tidak sampai sempat mengucapkan terima kasih kepadanya.
Keempat orang lainnya, seperti sudah bisa diduga, memang di satu sisi berniat membantu, tetaip di sisi lain juga oportunis. Mereka terdiri dari dua orang yang memang tinggal di daerah proyek dan tidak punya pekerjaan dan dua lagi kebetulan lewat. Akhirnya saya meninggalkan Karimun saya di tepi jalan itu dan berjalan bersama salah satu dari mereka untuk mencari peralatan karena di mobil hanya ditemukan ban serep dan dongkrak tapi kunci-kuncinya tidak berhasil ditemukan (konon ada di bawah jok pengemudi, tersimpan begitu rapinya di dalam plastik di bawah karpet sehingga orang bengkel pun tidak berhasil menemukannya).
Dalam kepanikan, saya menelepon Antony. Segera ia dan papanya berangkat. Sementara itu saya gagal mendapatkan peralatan yang dibutuhkan karena semua orang di mana-mana memang mata duitan. Maunya melihat duitnya dulu baru mau membantu, sedangkan saat itu saya hanya membawa sekitar Rp30 ribu di dompet. Pk. 22.15 Antony dan papanya tiba dengan semua peralatan yang dibutuhkan. Sangat lengkap, luar biasa!
Yang sangat mengagumkan, saat Jazz mereka menepi, papanya Antony keluar dari mobil membawa HT besar dan menyangklokkannya pada sabuknya … momen yang luar biasa! Kelihatan sekali efek psikologisnya pada orang-orang yang ada di situ.
Beberapa saat mobil dikutak-katik, ban diganti, dalam waktu 10 menit semuanya beres, berikutnya saatnya bernegosiasi. Kedua orang yang cuma lewat diberi Rp10 ribu dan mereka langsung pergi. Yang dua lagi agak merepotkan. Akhirnya mereka bersedia menerima Rp150 ribu dengan dalih tangan mereka sakit dan perlu mengganti seng yang ditabrak (padahal tinggal diketok-ketok saja).
Kami berjalan beriringan, Karimun dan Jazz, dan setelah beberapa meter kembali menepi di sebuah tempat parkir toko yang sudah tutup, karena ternyata as depan sudah bengkok dan antara roda kiri, roda kanan serta setir, ketiganya tidak ada yang sinkron! Agak lama perbaikan yang kali ini, mungkin sekitar 1 jam, kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan perlahan-lahan. Di tengah perjalanan persneling mulai menunjukkan tanda-tanda aneh: bergetar hebat dengan bunyi yang keras pula. Akhirnya saya didampingi papanya Antony sementara Antony mengemudi sendirian.
Kami tiba di rumah pk. 02.30. Berikutnya tinggal urusan asuransi. Saya pergi kerja pagi-pagi, hanya 1 jam, kemudian pulang untuk mengurus mobil derek dari asuransi yang sudah dipesan sebelumnya. Sejauh ini semuanya berjalan cukup lancar. Mudah-mudahan waktu perbaikannya tidak terlalu lama dan mobil diantar kembali sampai di rumah kelak.
Sebenarnya di hari-hari ini saya sudah terlalu letih, banyak sekali kegiatan yang menguras energi, baik fisik maupun pikiran … sudah 2 kali pula saya tertidur di balik kemudi dan 1 kali lampu lalu lintas terlewat dan hampir tertangkap polisi. Tetapi rupanya saya kurang cepat belajar dan kurang tanggap terhadap kondisi diri sendiri …. Pada saat kejadian saya kurang menyadari rasa kantuk saya dibanding kedua kali yang sebelumnya. Saya pun menyalakan AC, menutup jendela rapat-rapat dan tidak menyalakan radio … benar-benar suasana yang dibuat nyaman untuk tidur!
Mudah-mudahan selanjutnya semuanya berjalan lancar dan tidak memakan waktu. Pengalaman yang menegangkan. Mudah-mudahan juga, tidak akan terulang lagi dengan cara bagaimana pun juga.
Yang jelas, untuk beberapa minggu (atau bahkan bulan) ke depan saya tidak akan membawa mobil di malam hari dulu. Kalau ada kegiatan malam, mungkin lebih baik dihindari atau mencari tempat menginap daripada meresikokan diri seperti itu lagi.
People change. Sometimes for the better, other time for the worse. It’s a bad, bad thing if someone you care so much about change for the worse. The loss is unutterable. But the hurt has been done.
We expect some people to change, we expect some to stay the same. But they just don’t. Why? Because we’re not God. If only we could programme people … but that’s the uniqueness of humanity, isn’t it?
And that’s also one big reason why humanity changes courses at unprecedented times and through unintelligible reasons. Because we’re humans.