Jul
08

Kehidupan Monastik

Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 08-07-2007

Salah satu rencana liburan saya adalah menghabiskan 3 hari 2 malam di almamater saya, STT Cipanas. Untuk apa? Untuk menyegarkan kembali diri saya. Dengan cara apa? Dengan membenamkan diri di perpustakaan. Hah? Petugas administrasi yang saya hubungi di STT Cipanas sampai bertanya-tanya. Apa tidak salah? "Kok refreshing-nya begitu sih? Kalau saya mah bisa-bisa tambah stres, kalau refreshing-nya begitu …" ujarnya.

Ya, ada beberapa masalah dengan Hakim-Hakim dan ketertarikan saya (yang mungkin agak esoterik hehe …) terhadap beberapa topik di Perjanjian Lama. Dan untuk memuaskan ketertarikan yang esoterik itu, cara yang terbaik adalah dengan menghabiskan waktu di perpustakaan. Dan di mana lagi, kalau bukan di Perpustakaan STT Cipanas? Kekayaan buku biblikanya ditambah dengan sistem perpustakaan terbukanya, membuat saya merasa sangat nyaman di situ.

Rencana berubah. Saya hanya bisa menghabiskan satu hari di situ karena tiba terlalu sore di hari Kamis (perpustakaan tutup di hari Sabtu). Yang lebih mengesalkan, ternyata petugas perpustakaan tiba terlambat 40 menit! Tanpa rasa bersalah, dia mengatakan habis kendurian dulu pagi-pagi sebelum ke kantor. Astaga … kerja atau kerja ini? Seharusnya saya punya 7 jam hari itu, pk. 08-12 dan pk. 13-16 karena perpustakaan tutup 1 jam untuk makan siang. Ternyata setelah istirahat makan siang pun bukanya terlambat lagi, walaupun hanya sekitar 5 menit … tetapi tentunya mereka istirahat makan siang dan tutup pada sore harinya tepat waktu.

Sumber-sumber yang saya cari pun tidak saya temukan secara memadai. Mungkin memang minat saya terlalu esoterik ya …. Hmmmhhh … agak susah juga nih kalau begini ….

Tapi selama di sana saya jadi terkenang masa-masa lalu dan tergugah untuk kembali menekuni studi teologia di tingkat yang lebih lanjut. Mungkin M.Th.? Atau M.Litt.? Haha … sudahlah, itu harus dilupakan, nanti tidak jelas kapan mau fokus berkaryanya, lagipula itu kan sudah pernah digumulkan … saya akan meneruskan studi di bidang ilmu pendidikan, bukan di teologia.

Saya kembali juga tergugah untuk berlangganan jurnal-jurnal Perjanjian Lama … tapi memang harganya sangat mahal. Satu kesimpulan saya: gaya studi saya sudah harus berubah, tidak bisa lagi terlalu mengandalkan buku-buku teks, tetapi harus beralih kepada jurnal-jurnal. Juga, tidak bisa terlalu mengandalkan karya orang lain tetapi harus pandai-pandai mengasah keterampilan diri sendiri untuk mengadakan penelitian, untuk mengorek, mempelajari Alkitab hingga detail. Untuk studi yang agak-agak esoterik ini, pertama-tama hati saya sendiri harus dijaga dengan sangat waspada, jangan sampai menyimpang.

Jadi berikutnya, saya tidak mungkin lagi ke perpustakaan dengan beberapa ketetarikan esoterik saya lantas mengharapkan akan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Saya harus terlebih dulu mengadakan studi pribadi secara mendalam, baru lantas membandingkan dan mendiskusikan hasilnya. Nampaknya itulah yang harus terjadi selanjutnya.

Maka pergumulannya adalah bagaimana mewujudkan itu semua, menyelenggarakan bentuk kehidupan dan disiplin monastik dalam kehidupan sehari-hari, demi pengenalan yang lebih baik terhadap Tuhan dan terhadap Firman-Nya. Jangan sampai ketertarikan dan rasa penasaran itu malah membahayakan kehidupan rohani sendiri; sebaliknya, itu harus membangun dan menempa diri secara kuat dan kokoh.



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: