Sep
30
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 30-09-2007
  1. Chenoweth, Karin. It’s Being Done. Cambridge, MA: Harvard Education Publishing Group, 2007.
  2. Grondin, Jean. Sejarah Hermeneutik: Dari Plato sampai Gadamer. Sleman: Ar-Ruzz Media, 2007.
  3. Haminoto, Rio. Kionelle: the Avenue to Northern Ireland. Jakarta: Alumera Publishing, 2007.
  4. Posavac, Emil J.; Carey Raymond G. Program Evaluation: Methods and Case Studies. 6th ed. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 2001.
  5. Posner, George J. Analyzing the Curriculum. 3rd ed. USA: McGraw-Hill Higher Education, 2003.
  6. Rothman, Robert (ed.). City Schools: How Districts and Communities Can Create Smart Education System. Cambridge, MA: Harvard Education Publishing Group, 2007.
  7. Senge, Peter M. The Fifth Discipline: The Art & Practice of The Learning Organization. USA: Currency and Doubleday, 1994.
  8. Toer, Pramoedya Ananta. Anak Semua Bangsa. Dalam Tetralogi Buru. Buku 2. Jakarta: Lentera Dipantara, 2007.
Sep
24
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 24-09-2007

Di antara semua pusat kebudayaan yang ada di Jakarta, Pusat Kebudayaan Rusia dan India berturut-turut menempati peringkat terburuk.

"Jawaharlal Nehru" Indian Cultural Centre memiliki tempat yang sangat strategis, di perempatan antara H.A. Salim dan Imam Bonjol, tidak jauh dari Bundaran HI, tetapi tempat itu sangat kumuh, tidak terawat, nampak kusam dan berdebu di mana-mana. Dari luar hingga ke dalam, nuansa yang sama tergambar dengan sangat jelas.

Pusat Kebudayaan Rusia lebih parah lagi. Pelayanan yang kasar dan seadanya selalu menyambut kita di Pusat Kebudayaan Rusia di Pangeran Diponegoro. Operator telepon seringkali menjawab telepon dengan asal-asalan, antara mau dan tidak, dengan nada yang menyebalkan pula. Tidak sekali dua kali saya menyapa dan bertanya kepada petugas setempat (atau mungkin pacar dari petugasnya?) dan diacuhkan begitu saja.

Tahun ini dicanangkan sebagai Tahun Bahasa Rusia. Menurut situs Internet mereka, tahun ini penguasaan bahasa Rusia akan dipromosikan secara gencar di seluruh dunia, tetapi kenyataannya informasinya diberikan asal-asalan, semaunya, dan bahkan cenderung menyesatkan. Ditambah pula dengan jam kerja yang tidak jelas sehingga setiap kali datang harus diperlukan menelepon dulu, apakah mereka masih buka.

Sayangnya, bahasa Rusia memang masih merupakan bahasa yang cukup penting, menilik tataran geopolitik dunia masa kini. Nampaknya masih cukup penting menguasai bahasa yang satu ini. Yah, mungkin untuk beberapa bulan perlu ditahankan berbagai perasaan tidak suka ini.

Sep
24
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 24-09-2007

"Gerakan Disiplin Nasional" sudah lama dicanangkan. Ya, di Indonesia, bahkan untuk berdisiplin pun, pemeirntah harus membuat gerakan dulu. Pada masa itu di setiap sekolah ada perwakilan murid yang "dilantik" menjadi "pengawas" GDN. Pokoknya, yang namanya disiplin, kalau tidak ada pengawasannya, tidak akan jalan. Nampaknya itulah yang dipahami pemerintah, maka pelaksanaan GDN pun dibarengi dengan pelantikan pengawas-pengawasnya di berbagai tempat.

Ada kawasan-kawasan percontohan GDN, misalnya untuk urusan berlalu lintas, jalan-jalan protokol utama, Thamrin dan Sudirman, dijadikan tempat percontohan. Parahnya, setelah gerakan itu berjalan, masyarakat pengguna jalan raya bukannya mengenal tempat-tempat itu sebagai tempat di mana pemerintah mengarahkan rakyatnya menjadi disiplin, melainkan tempat di mana pemerintah menakut-nakuti rakyatnya menjadi disiplin.

Ya, gerakan pendisiplinan itu dilakukan bukan dengan mengayomi, bukan juga dengan memberikan contoh, tetapi dengan menakut-nakuti. Polisi dikerahkan bukan untuk membimbing masyarakat, memberi tanda-tanda dan rambu-rambu agar semua peraturan menjadi jelas, malahan untuk menilang dan nampaknya tidak banyak lebihnya daripada sekedar menilang. Maka jadilah Bundaran HI sebagai tempat yang sangat ditakuti banyak pengemudi.

Kita semua tahu bahwa disiplin adalah masalah karakter. Pembentukan disiplin dalam diri orang, memang awalnya dibarengi dengan pemberian sanksi bagi yang tidak disiplin, tetapi itu kan seyogianya hanya efek sampingnya, hanya upaya sampingan untuk mengingatkan orang-orang agar tetap disiplin, bukan sebagai upaya utama dalam pendisiplinan yang ujung-ujungnya hanya pemaksaan eksternal yang tidak akan pernah terinternalisasi dalam diri orang-orang, secara makronya dalam diri bangsa kita ini.

Kenyatannya, pemerintah memang kurang memperhatikan sistem yang dibuatnya untuk membentuk bangsa yang disiplin. Misalnya, orang hanya boleh menyeberangi jalan di jembatan penyeberangan atau di zebra-cross. Tetapi di mana jembatan penyeberangan dan zebra-cross itu diletakkan? Seringkali saya menjumpai ternyata jembatan penyeberangan dan zebra-cross diletakkan berjauhan dari halte sedangkan halte sendiri diletakkan jauh dari mana-mana.

Satu contoh, di perempatan Hotel Millenium, mikrolet dari arah Tanah Abang III (arah pukul 9) akan berbelok ke arah Jatibaru (arah pukul 6), sedangkan kendaraan-kendaraan umum dari Jatibaru akan menyeberang dari Jatibaru (arah pukul 6) ke Bank Indonesia (arah pukul 3). Maka perempatan itu adalah tempat yang strategis, tetapi kenyataannya halte bus diletakkan beratus-ratus meter ke arah Bank Indonesia sehingga orang lebih suka naik-turun bus di perempatan itu sedangkan orang naik-turun mikrolet jelas harus di perempatan itu, tidak mungkin di halte.

Di tempat lainnya, di Katedral, pada sisi yang berhadapan dengan Istiqlal. Jalur itu seharusnya menjadi jalur pedestrian yang memang harus dilewati orang yang turun dari Transjakarta di Pintu Air. Lalu, bagaimana caranya mereka menyeberang ke Katedral? Tidak ada zebra-cross maupun jembatan penyeberangan di situ. Padahal, ada satu halte bus di sisi Istiqlal! Konsekuensinya, di tempat yang lalu lintasnya padat dan cenderung cepat itu, orang harus menyeberang jalan tidak di atas zebra-cross.

Menjadi disiplin di Indonesia, pada akhirnya, setidaknya untuk saat ini, adalah pertarungan antara pembentukan karakter dan kenyataan sistem yang tidak memungkinkan kita menjadi disiplin. Sistem yang ada adalah sistem yang "menganjurkan" orang untuk menjadi tidak disiplin. Mungkin hanya di tempat-tempat di mana ada proyek percontohan GDN-lah pemerintah menyiapkan sistem yang dibangun dengan baik, tetapi tidak di tempat-tempat lainnya.

Kita ingin menjadi disiplin, tetapi pemerintah-lah yang tidak memungkinkan kita menjadi disiplin ….

Sep
21
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 21-09-2007

Kita hidup di tepi jurang maut. Kita tidak pernah tahu kapan kematian tiba bagi kita. Kita tidak pernah tahu berapa banyak waktu yang tersisa bagi kita. Kita hanya bisa mengasumsikan berdasarkan kelaziman bahwa usia kita masih sekian puluh tahun lagi, atau sudah saatnya menghitung mundur. Istilah-istilah seperti "bau tanah" dan "tulang punggung" pun hanya didasarkan atas asumsi-asumsi semacam itu, bisa-bisa yang disebut tulang punggung meninggal lebih dulu daripada yang sudah bau tanah.

Tetapi seringkali kenyataan itu tidak dipahami maupun dihayati dengan baik di dalam kehidupan ini. Hanya ketika saat-saat maut melintas di hadapan kita, kita teringat, untuk kemudian lupa lagi. Kenyataannya nampaknya, semakin berisiko kehidupan yang dijalani, semakin nampak bagaimana Tuhan menyertai dengan cara yang luar biasa, bagaimana nyatanya bahwa semua yang "normal" ini terjadi sebagaimana adanya semata-mata karena pemeliharaan Tuhan.

Semakin lama dan semakin sering saya mengemudi, semakin sering saya disadarkan betapa banyaknya potensi bahaya yang mengancam saya dalam satu hari saja. Betapa banyaknya potensi senggolan, tabrakan, tubrukan, dan berbagai bencana lainnya yang bisa terjadi pada diri saya dan kendaraan yang saya bawa.

Jalanan kita penuh dengan orang-orang sakit, orang-orang yang kesulitan mengendalikan emosinya, yang menggunakan fasilitas umum itu sebagai tempat mengumbar emosi, tempat melampiaskan entah apa yang masih juga tak terlampiaskan dalam kehidupan mereka. Orang-orang yang gemar sekali mengklakson tanpa alasan, yang suka menyorot-nyorot dengan lampu dim-nya yang menyakitkan mata, orang-orang myopis yang tetap tidak sabaran walaupun melihat jalanan jelas-jelas sedang macet, belum lagi yang gemar berkendara dalam kegelapan tanpa menyalakan lampu kendaraannya.

Ketika satu hari lagi - bukan, bukan satu hari lagi - ketika satu perjalanan lagi diakhiri dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun, dengan tubuh dan kendaraan yang tetap prima, dengan emosi yang tetap baik, dengan tenang, aman dan sentosa, itu adalah satu bukti pemeliharaan Tuhan.

Satu perjalanan di mana kita terhindar dari perilaku-perilaku ugal-ugalan pengendara lain, terhindar dari berbagai akibat kecerobohan yang kita sendiri lakukan, terhindar dari berbagai bencana … semua itu adalah bukti pemeliharaan Tuhan.

Kehidupan yang kita jalani adalah kehidupan di tepi jurang maut. Kita tidak pernah tahu kapan sisi ini dari kehidupan akan kita akhiri. Tetapi selama kita di sisi ini, satu hal yang perlu selalu diingat, bahwa ketika semua tetap berjalan apa adanya, itu semata-mata karena pemeliharaan Tuhan. Satu kesadaran itu semata bisa mengubah banyak hal.

Sep
21
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 21-09-2007

Sekitar dua bulan yang lalu Presiden meresmikan jalur dan sistem kereta listrik yang baru: KRL Ciujung, menghubungkan Stasiun Tanah Abang hingga Stasiun Serpong dengan rel ganda dan sistem tiket elektrik seperti MRT di Singapura. Suatu kemajuan yang luar biasa, bahwa kini kereta menjadi semakin nyaman dengan kereta kelas ekonomi yang ber-AC dan berhenti di setiap stasiun sehingga orang tidak harus menunggu jam-jam tertentu untuk naik kereta yang nyaman seperti sebelumnya ketika hanya ada kereta kelas bisnis yang bertarif Rp8.000 sekali jalan tetapi hanya ada sekitar 4 kali sehari, dua kali di pagi hari dan dua kali di sore hari.

KRL Ciujung tersedia lebih dari 10 kali sehari. Dengan harga tiket Rp5.000, tentunya pengalaman berkereta menjadi lebih nyaman dan menyenangkan. Tetapi ternyata memang kita tidak bisa memungkiri bahwa kita masih tinggal di Indonesia. Tetap saja banyak penumpang gelap dan mereka yang berlagak bodoh, "salah naik" dsb. sehingga kereta menjadi kurang nyaman lagi. Bahkan pernah sekali saya tersiram air jeruk oleh seorang pengemis cilik yang seenaknya menyiramkan sisa minumannya di dalam kereta … parahnya, masih beraninya ia menggunakan gelas plastik yang baru dikosongkannya itu untuk meminta uang dari saya!

Satu hal yang paling parah - tetapi juga paling menyenangkan bagi saya - adalah kebodohan sistem pintu elektrik. Semula semua penumpang yang naik KRL Ciujung menggunakan tiket plastik yang di-scan di pintu elektrik, kemudian pintunya otomatis berputar (seperti pintu putar di Hero dan halte Transjakarta) dan orangnya pun bisa lewat. Hal yang sama dilakukan di stasiun tujuan, tetapi kemudian setelah melalui pintu itu tiketnya harus dikembalikan dengan cara dicemplungkan ke kotak yang tersedia. Betapa lemahnya sistem demikian, bukan? Ternyata benar, dalam seminggu pertama ada ribuan tiket yang dicuri dan mengakibatkan kerugian puluhan juta rupiah. Maka dalam minggu kedua langsung sistem pertiketan kembali ke kertas biasa. Kalau orang mau pakai tiket elektrik, harus bayar uang jaminan Rp15.000; untuk apa? Siapa yang mau?

Apa yang menyenangkannya? Saya biasa membeli abonemen, langganan bulanan. Abonemen KRL Ciujung berharga Rp170.000 untuk pembelian pertama, dengan Rp15.000 untuk uang jaminan dan Rp155.000 untuk 44 kali perjalanan, berarti sekitar Rp3.000 sekali naik. Lebih murah 40% kan? Ternyata lebih murah lagi, karena pintu itu jarang sekali dinyalakan sehingga saya cukup melewati pintu manual dengan menunjukkan tiket saya kepada petugas - yang tidak memegang scanner! - sehingga saldo saya tidak pernah berkurang. Saya berkelakar kepada beberapa orang, tiket saya berharga Rp170.000 untuk seumur hidup … :-)

Tapi ternyata kemudian sistemnya tiba-tiba diubah tanpa pengumuman. Hari ini saya didenda di atas kereta sebesar Rp10.000 (dua kali harga tiket) karena katanya tiket saya sudah kadaluarsa pada 1 September, padahal isinya masih lebih dari Rp100.000. Menyedihkan bukan keadaan kita? Sulit sekali bagi orang-orang itu untuk berpikir sistemik, mengubah sistem pun tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan …. Akhirnya saya membayar kembali perpanjangan tiket elektrik itu dan baru tahulah saya, sekarang sistemnya Rp155.000 untuk 30 hari, tidak peduli berapa kali pun pemakaiannya. Jadi, berikutnya tiket saya berlaku hingga 21 Oktober 2007. Saldo saya yang Rp100.000 lebih itu dianggap hangus dan pintu elektrik yang dibangun dengan biaya miliaran rupiah dengan dikebut dalam hitungan minggu, akhirnya menjadi mubazir ….

Itulah Indonesia.

Sep
21
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 21-09-2007

Ketika rasa letih dan jenuh melanda, ke mana kita bisa pergi di Jakarta ini? Ke mal? Ke bioskop? Rasanya kita dikondisikan agar semua rasa letih dan jenuh diatasi dengan kebisingan yang lebih besar lagi daripada kegundahan hati kita. Jakarta adalah kota yang miskin dengan taman kota, miskin dengan keasrian. Bahkan pohon-pohon besar dibabati di mana-mana ….

Sulit sekali rasanya mencari tempat yang asri di kota tercinta ini. Terakhir kali saya mengalami pergumulan yang cukup berat, saya ke Cipanas. Di Gunung Kasur-lah saya mengambil satu keputusan penting yang kemudian mengubah arah kehidupan saya. Kini saya tengah berada di tengah-tengah kegundahan yang serupa dan kembali, rasanya kegundahan hati dan kebisingan kota ini begitu menekan.

Saya hampir-hampir mengirimkan SMS kepada seorang kawan menanyakan, "… tempat untuk slowing down life’s pace di Jkt di mana ya? Ada ide? Lg stressed out nih." ketika saya menyadari, "O ya, itu sebenarnya bukan masalah dari luar, tetapi masalah di dalam diri saya." Sebenarnya bukan soal tempat mana, walaupun tempat bisa jadi sangat kondusif dan sangat membantu, tetapi ketika tempat itu belum bisa dijangkau, maka pertama-tama hati saya sendirilah yang harus saya tenangkan.

Ya, yang pertama-tama harus saya kelola adalah kesibukan saya. "Slowing down life’s pace" adalah suatu disiplin pribadi. Permasalahannya adalah apakah kita mau dan memang berniat menghadirkan keheningan dan kedamaian itu di dalam diri dan kehidupan kita, atau menyerah begitu saja pada arus kehidupan.

Akhirnya saya menemukan beberapa alternatif untuk melarikan diri dari kesibukan di kota besar ini, tetapi sayangnya saya masih harus menunggu beberapa minggu hingga ada waktu libur yang cukup panjang sehingga "slowing down"-nya bisa benar-benar terasa dan dihayati. Saya berharap beberapa teman yang saya ajak, semuanya bisa pergi sehingga kami bisa bersama-sama menggunakan waktu itu dalam kebersamaan yang indah dan saya juga bisa menggumulkan ulang arah kehidupan saya di persimpangan jalan ini.

Pada saat-saat seperti ini, rasanya saya siap meninggalkan Jakarta, kota yang begitu sumpek dan seringkali hanya menyedot energi kita tanpa bisa mengembalikan vitalitas, kecuali dalam bentuk pemuasan indera fisik. Jakarta, Jakarta ….

Sep
19
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 19-09-2007

Jika beberapa tahun terakhir berbagai media massa internasional sibuk meributkan pemanasan global tanpa pernah terlintas di media-media kita, kini media-media nasional pun sudah ramai membicarakannya. Majalah Time edisi 24 September 2007, pada kolom Briefing memuat tulisan Nancy Gibbs yang mengutarakan, antara lain, bahwa pada tahun 2050, 40% selimut es di lautan Arktik akan mencair, 2008 akan menjadi tahun terpanas dalam seabad terakhir ("supersize hurricanes, heat waves, floods and droughts") dan sebanyak 16.000 dari 15 juta spesies di dunia sudah terancam kepunahan.

Bukankah data itu sungguh menakutkan dan menggentarkan hati? Bukankah sudah saatnya kita merasakan ketakutan itu dan mulai bertindak sesuai dengan rasa takut yang ada? Atau, haruskah kita melihat dengan mata kepala kita sendiri suatu fakta yang lebih nyata daripada banjir-banjir besar yang telah melanda Jakarta, haruskah kita merasakan kekacauan musim yang lebih parah daripada yang sudah kita alami, haruskah kita mengalami bencana-bencana alam yang super dahsyat terlebih dulu sebelum kita bertobat dari kebiasaan-kebiasaan buruk kita?

Bagaimana caranya kita bertobat? Dengan meniadakan penggunaan sterofoam, kurangi secara drastis penggunaan plastik, kurangi penggunaan AC yang tidak perlu, kurangi penggunaan BBM berbasis timbal semampu kita, dan masih banyak lagi.

Ada begitu banyak hal mengerikan yang terbentang di depan mata kita, tapi ternyata kita buta …. Ada begitu banyak hal yang seharusnya bisa dididikkan menjadi kebiasaan kepada anak-anak kita sejak usia yang sangat dini, tetapi ternyata kita tidak peduli.

Apa lagi yang kita tunggu? Harus menjadi seberapa hancurkah dunia ini sebelum kita mulai bertindak?

Sekolah harus mulai memainkan peranannya, sekolah harus segera memodifikasi kurikulumnya untuk mengakomodasi kepentingan ini, sebuah kepentingan seluruh umat manusia! Inilah saatnya, jangan tunda lagi! Sekolah ada demi kemanusiaan, sekolah tidak boleh ada cuma demi penghidupan, tapi demi kemanusiaan!

Inilah saatnya! Mari, semua orang pasti bisa bertindak, dalam segala kapasitas maupun keterbatasannya, ada hal-hal dari yang kecil sampai yang besar yang bisa kita lakukan. Sejauh ruang lingkup kita, dengan segala daya kita, mari kita bertindak. Pakai pengaruh yang kita punya, pakai semua daya yang kita punya. Demi keberlangsungan Bumi, tempat tinggal kita; demi keberlangsungan umat manusia sendiri.

Jika tidak, maka kepunahan umat manusia jangan-jangan memang sudah di depan mata kita.

Sep
19
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 19-09-2007

Anak-anak yang kini duduk di bangku sekolah dibesarkan dengan Internet sebagai bagian dari realita kehidupan mereka. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang terbiasa mengaduk-aduk perpustakaan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, terbiasa untuk menggarap makalah dan laporan bacaannya dari sumber-sumber tercetak yang harus dipertanggungjawabkan, anak-anak pada masa kini terbiasa meng-google dan lantas melakukan copy + paste untuk tugas-tugas mereka, hanya dengan menambahkan identitas mereka pada halaman pertama.

Mereka tidak salah. Mereka hanya tidak tahu. Jangankan di Indonesia, ternyata di Amerika Serikat pun kasus semacam itu terjadi. Coleen Gillard, dalam makalahnya "Internet Research 101" yang dimuat di Harvard Education Letter Vol. 23 No. 5 mengutip turnitin.com, menyatakan bahwa tidak kurang dari sepertiga makalah di tingkat perguruan tinggi di negeri Paman Sam itu dinodai oleh plagiasi yang signifikan. Upaya untuk mendidik anak-anak ini selambat-lambatnya harus dimulai dari tingkat SMP, dan itu tidak mudah. Sulit sekali mengajarkan kepada anak-anak yang masih kecil itu bahwa plagiasi adalah sebuah pencurian, bahwa plagiasi adalah sebuah kejahatan. Dibutuhkan berulang kali penugasan riset dan evaluasi bersama untuk menyadarkan murid-murid penggunaan karya orang lain yang bagaimana yang disebut sebagai plagiasi dan yang bagaimana yang tidak.

Guru-gurulah yang bersalah. Semakin hari, semakin sering saya menjumpai guru-guru yang dengan lugunya menerima begitu saja makalah yang jelas-jelas dicetak langsung dari Internet tanpa melalui secuil pun pengeditan. Bahkan ada kalanya masih lengkap dengan blok kuning-biru-merah yang ditandai oleh Google sebagai kata-kata kunci yang digunakan dalam pencarian. Semakin sering saya menjumpai makalah-makalah semacam itu diberikan nilai yang baik, bahkan dipajang di mading.

Apa akibatnya? Sekolah-sekolah yang membiarkan murid-muridnya berperilaku demikian akan menjerumuskan mereka ke dalam kebobrokan yang besar. Bukan saja mereka akan menjadi orang-orang yang gampangan dalam meneliti, mereka juga akan menjadi plagiat-plagiat tanpa mereka sendiri sadari. Maka, betapa bersalahnya sekolah kepada murid-muridnya jika sekolah membiarkan tindakan plagiasi itu terjadi!

Internet telah menjadi realita kehidupan kita. Internet menyeruak masih ke dalam ruang kesadaran kita. Dan guru-guru yang dengan lugunya mengabaikan realita itu mungkin tidak merasakan suatu dampak bagi dirinya sendiri, tetapi dengan sikap tidak pedulinya itu ia akan menjerumuskan murid-muridnya ke dalam kesesatan yang luar biasa besar - suatu hal yang tentu lebih serius di era informasi elektronik ini dibandingkan dengan dahulu kala, di era perbukuan.

Keterampilan riset sosial, keterampilan memanfaatkan kekayaan Internet dengan optimal, sesuai perkembangan murid, adalah sebuah tuntutan perubahan yang perlu dijawab oleh kurikulum. Gillard sendiri mengutarakan bahwa pengajaran etiket penggunaan sumber daya yang tersedia di Internet untuk keperluan riset harus dilakukan di mata pelajaran yang terkait, dan dilakukan oleh guru mata pelajaran itu, bukan di dalam jam pelajaran komputer karena anak-anak akan sulit sekali memahami makna etiket itu serta dampaknya tanpa melalui proses revisi dan latihan yang berulang-ulang.

Guru-guru ilmu sosial, para pengampu kurikulum, para pembuat kebijakan, Anda harus bertindak! Realita kita sudah berubah, kurikulum pun harus disesuaikan! Para orang tua, jangan hanya sediakan akses Internet untuk anak-anak Anda, bimbing mereka, berikan mereka pengertian dan bantulah mereka menjadi cerdik cendekia yang bertanggung jawab. Jangan sampai terlambat!

Sep
19
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 19-09-2007

Menonton "Children of Men" karya Alfonso Cuarón, tidak bisa tidak saya memikirkan kembali makna sebuah kehidupan. Untuk apa Julianne, Miriam dan Theo mengorbankan nyawa mereka demi sesuatu yang tak punya sangkut paut dengan kehidupan mereka?  Bahkan lebih dari itu: mereka mengorbankan kenyamanan hidup mereka, dan mereka meninggal dengan cara yang sangat tidak menyenangkan (terutama Miriam, walaupun Theo juga tahu dia bisa menderita dengan cara yang sama). Apa arti sebuah kehidupan yang Tuhan telah percayakan kepada kita masing-masing? Untuk apa kita gunakan itu semua?

Di sebuah persimpangan kehidupan, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang selalu patut diajukan kembali. "Untuk apa hidup saya ini?" Yaitu: kepada siapa saya serahkan hidup ini? Dengan cara bagaimana saya menggunakan hidup ini? Bagaimana saya memaksimalkan daya ungkit kehidupan saya yang cuma satu-satunya ini?

Adakah semua yang saya perjuangkan dengan berjerih-lelah, semua yang saya usahakan, semua itu membawa suatu dampak yang berarti dan bertahan? Atau, apa sebenarnya yang penting dan yang terpenting di dalam kehidupan? Dengan cara bagaimana saya akan menghabiskan kehidupan saya?

Keberanian melangkah keluar dari kenyamanan demi terengkuhnya suatu mimpi tidak pernah mudah. Keputusan untuk hidup yang tidak membiarkan diri dibawa arus "orang kebanyakan" adalah suatu perjuangan yang tak pernah berakhir … suatu hal yang melelahkan. Mungkin memang ada masanya ketika sabat itu harus dijalani, demi kewarasan, demi kebermaknaan, demi suatu daya ungkit yang maksimal.

Memikirkan ulang makna kehidupan nampaknya harus terus-menerus dilakukan, selangkah demi selangkah, hingga kita tiba pada penghujung kehidupan kita.

Sep
18
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 18-09-2007

Hidup memiliki rangkaian kesempatan dan pembuktian yang datang silih-berganti. Ketika kesempatan itu datang, yang manusia bisa perbuat adalah menangkapnya dengan sigap. Berikutnya, adalah waktu pembuktian dirinya, bahwa ia layak mendapatkan kesempatan itu. Sebuah pembuktian diri bisa membawa manusia kepada kesempatan berikutnya. Demikianlah silih berganti keduanya datang dan pergi.

Kelajuan seseorang di dalam kehidupan ini adalah sebuah fungsi dari kesiapan dan kematangan seorang manusia dalam memanfaatkan kesempatan dan pembuktian itu dengan bijaksana, dewasa dan cerdas. Kesempatan mobilitas vertikal juga datang dengan cara yang lebih-kurang sama.

Di dalam kehidupan ini, ketika seorang manusia mempunyai kekuasaan atas diri orang lain, seyogianyalah ia juga memberikan kesempatan kepada orang-orang yang dipercayakan ke bawah pimpinannya itu untuk mempunyai kesempatan dan membuktikan diri. Seorang yang tidak bisa mengelola keduanya secara berimbang akan menjadi orang yang tidak menyenangkan.

Ketika seorang pimpinan meminta anak buahnya membuktikan diri terus-menerus, tanpa diimbangi oleh kesempatan yang setara, maka ia sedang memanipulasi anak buahnya itu demi kepentingan dan keuntungan pribadinya. Demikian pula jika kesempatan diberikan secara berlebihan tanpa diimbangi pembuktian diri, maka ia sedang menempatkan anak buahnya di jalur cepat menuju kejatuhan … dan kejatuhan dari tempat yang lebih tinggi akan lebih menyakitkan dan menghancurkan.

Seorang yang "dinilai" belum membuktikan apa-apa tetapi kenyataannya berada di bawah tuntutan pekerjaan yang dipersepsikan tinggi sebenarnya tidak berada pada posisi tertuduh, sebaliknya kondisinya itu menunjukkan keadaan sebuah sistem yang lemah serta pemimpin yang kompetensi dan kualifikasinya perlu dipertanyakan; mereka itulah yang duduk di kursi terdakwa.