Sep
18
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 18-09-2007

Hidup memiliki rangkaian kesempatan dan pembuktian yang datang silih-berganti. Ketika kesempatan itu datang, yang manusia bisa perbuat adalah menangkapnya dengan sigap. Berikutnya, adalah waktu pembuktian dirinya, bahwa ia layak mendapatkan kesempatan itu. Sebuah pembuktian diri bisa membawa manusia kepada kesempatan berikutnya. Demikianlah silih berganti keduanya datang dan pergi.

Kelajuan seseorang di dalam kehidupan ini adalah sebuah fungsi dari kesiapan dan kematangan seorang manusia dalam memanfaatkan kesempatan dan pembuktian itu dengan bijaksana, dewasa dan cerdas. Kesempatan mobilitas vertikal juga datang dengan cara yang lebih-kurang sama.

Di dalam kehidupan ini, ketika seorang manusia mempunyai kekuasaan atas diri orang lain, seyogianyalah ia juga memberikan kesempatan kepada orang-orang yang dipercayakan ke bawah pimpinannya itu untuk mempunyai kesempatan dan membuktikan diri. Seorang yang tidak bisa mengelola keduanya secara berimbang akan menjadi orang yang tidak menyenangkan.

Ketika seorang pimpinan meminta anak buahnya membuktikan diri terus-menerus, tanpa diimbangi oleh kesempatan yang setara, maka ia sedang memanipulasi anak buahnya itu demi kepentingan dan keuntungan pribadinya. Demikian pula jika kesempatan diberikan secara berlebihan tanpa diimbangi pembuktian diri, maka ia sedang menempatkan anak buahnya di jalur cepat menuju kejatuhan … dan kejatuhan dari tempat yang lebih tinggi akan lebih menyakitkan dan menghancurkan.

Seorang yang "dinilai" belum membuktikan apa-apa tetapi kenyataannya berada di bawah tuntutan pekerjaan yang dipersepsikan tinggi sebenarnya tidak berada pada posisi tertuduh, sebaliknya kondisinya itu menunjukkan keadaan sebuah sistem yang lemah serta pemimpin yang kompetensi dan kualifikasinya perlu dipertanyakan; mereka itulah yang duduk di kursi terdakwa.

Sep
18
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 18-09-2007

Tidak ada kata terlambat untuk bertobat. Memang. Tapi tidak berarti itu tanpa konsekuensi.

Dalam tahun-tahun belakangan ini saya menemukan beberapa orang yang bertobat di usia paruh bayanya. Life begins at 40, kata orang. Dan demikianlah, orang-orang itu sudah berada dalam kondisi mapan. Dan kemudian mereka bertobat! Apa yang terjadi? Seperti orang buta yang tiba-tiba bisa melihat, maka mereka pun merasa bahwa mereka perlu memberi tahu semua orang bahwa sekarang mereka sudah bisa melihat, dan dalam kemapanan mereka, mereka malah jadinya mendikte orang-orang tentang apa yang mereka lihat. Apa yang mereka lihat adalah yang benar. "Kebenaran" adalah apa yang mereka lihat. Kalau orang-orang melihat yang berbeda, maka orang-orang itulah yang salah.

Celakanya, mereka sudah berada pada posisi-posisi yang cukup tinggi - atau bahkan pada posisi-posisi puncak. Jadilah pertobatan mereka menjelma menjadi upaya untuk menobatkan seluruh sistem dan semua orang di dalamnya. Mereka melihat bahwa sistem itu adalah sistem yang berdosa, orang-orangnya terlibat di dalam tindakan dosa yang diakomodasi oleh sistem, lingkaran setan keberdosaan terus berputar dan menjalar … atau setidaknya begitulah persepsi mereka.

Maka, sesuai keyakinan mereka, tugas dan panggilan merekalah untuk membenahi semua permasalahan itu, memberantas semua dosa dan memberangus setiap suara sumbang. Tidak ada yang namanya pendapat kedua. Semua dosa harus diberantas. Celaka yang paling celakanya, mereka tidak bisa melihat bahwa mereka justru sedang berbuat dosa terbesar yang bisa dibuat: mereka menjadikan diri mereka sendiri dan sistem yang mereka pimpin sebagai Tuhan.

Ya, di tempat di mana seharusnya Tuhan ada, mereka menempatkan diri mereka. Penafsiran yang lain terhadap pribadi dan kehendak Tuhan tidak boleh ada. Dalam upaya mereka memberantas "dosa", mereka justru berbuat dosa yang begitu fatal dan mengerikan …. Sungguh tragis!

Satu hal yang nampaknya harus betul-betul dipunyai adalah hati seorang murid yang mau belajar. Kemapanan dan status sosial mereka tidak berarti mereka bisa mencuri start dalam kehidupan beriman mereka. Tetap saja, ketika seorang baru bertobat, kehidupannya sebagai orang beriman dimulai lagi di tempat di mana setiap orang memulai, tidak ada implikasi dari kemapanan dan status sosial mereka.

Kerendahan hati sangat penting di sini. Pertobatan di kala senja memang tidak terlambat, tetapi dibutuhkan upaya dan perjuangan yang jauh lebih keras untuk mencapai hasil yang sama dibandingkan dengan orang-orang yang telah sejak lebih awal menapaki jalan itu.

Sep
18
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 18-09-2007

Shakespeare mengungkapkan, apatah arti sebuah nama, karena mawar, dengan apa pun namanya, tetap sewangi (dan seindah) itu.

Apa arti sebuah alamat?

Ada masanya saya mempunyai banyak pilihan untuk alamat korespondensi saya: alamat rumah, alamat kos, alamat kantor, alamat gereja. Ada empat pilihan yang sama-sama absah karena saya menghabiskan satu waktu yang signifikan di masing-masing tempat itu pada setiap minggunya. Korespondensi ke rumah lebih pasti diterima, tetapi juga bisa memakan waktu lebih lama karena faktor kode pos, juga saya hanya malam hari ada di rumah, sehingga surat-surat dan paket-paket baru bisa diterima dan dibaca pada malam hari, dengan sisa-sisa tenaga. Korespondensi ke sekolah diterima dengan lebih cepat, lebih praktis pula, tetapi harus melalui banyak tangan, dari satpam ke OB dst., juga ada risiko penundaan penerimaan di hari Sabtu dan Minggu.

Korespondensi ke kos juga lebih cepat daripada ke rumah, tetapi ada risiko ditelantarkan begitu saja, atau malah terbuang. Korespondensi ke gereja lebih-kurang memiliki keuntungan dan kekurangan sama dengan korespondensi ke kantor.

Tetapi pilihan alamat - di antara pilihan-pilihan bisa dikatakan yang setara - ternyata bermakna lebih dari sekedar kepraktisan, lebih dari sekedar perhitungan untung-rugi. Pilihan alamat juga menunjukkan identifikasi diri, sebuah identitas. Maka di saat ada kemelut, di saat ada permasalahan, saya juga memilih untuk mengganti alamat-alamat korespondensi saya.

Di antara pilihan-pilihan yang setara, alamat yang dituliskan bisa menunjukkan kecenderungan pribadi, kecondongan orientasi hidup, sebuah pernyataan diri.

Sep
18
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 18-09-2007
  1. Cohen, David S. The Talent Edge: A Behavioral Approach to Hiring, Developing and Keeping Top Performers. Etobicoke, Ontario: John Wiley & Sons, 2001.
  2. Nash, Gary B.; Crabtree, Charlotte; Dunn, Ross E. History on Trial: Culture Wars and the Teaching of the Past. New York: Vintage Books, 2000.
  3. Ornstein, Allan C.; Lasley, Thomas J., II. Strategies for Effective Teaching. 3rd ed. USA: McGraw-Hill Higher Education, 2000.
  4. Reynolds, David et al. Making Good Schools: Linking School Effectiveness and School Improvement. London: Routledge, 1996.
  5. Rogers, Everett M. Diffusion of Innovations. 4th ed. New York: The Free Press, 1995.
  6. Schlechty, Philip C. Creating Great Schools: Six Critical Systems at the Heart of Educational Innovation. San Fransisco: Jossey-Bass, 2005.