Sep
19
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 19-09-2007

Jika beberapa tahun terakhir berbagai media massa internasional sibuk meributkan pemanasan global tanpa pernah terlintas di media-media kita, kini media-media nasional pun sudah ramai membicarakannya. Majalah Time edisi 24 September 2007, pada kolom Briefing memuat tulisan Nancy Gibbs yang mengutarakan, antara lain, bahwa pada tahun 2050, 40% selimut es di lautan Arktik akan mencair, 2008 akan menjadi tahun terpanas dalam seabad terakhir ("supersize hurricanes, heat waves, floods and droughts") dan sebanyak 16.000 dari 15 juta spesies di dunia sudah terancam kepunahan.

Bukankah data itu sungguh menakutkan dan menggentarkan hati? Bukankah sudah saatnya kita merasakan ketakutan itu dan mulai bertindak sesuai dengan rasa takut yang ada? Atau, haruskah kita melihat dengan mata kepala kita sendiri suatu fakta yang lebih nyata daripada banjir-banjir besar yang telah melanda Jakarta, haruskah kita merasakan kekacauan musim yang lebih parah daripada yang sudah kita alami, haruskah kita mengalami bencana-bencana alam yang super dahsyat terlebih dulu sebelum kita bertobat dari kebiasaan-kebiasaan buruk kita?

Bagaimana caranya kita bertobat? Dengan meniadakan penggunaan sterofoam, kurangi secara drastis penggunaan plastik, kurangi penggunaan AC yang tidak perlu, kurangi penggunaan BBM berbasis timbal semampu kita, dan masih banyak lagi.

Ada begitu banyak hal mengerikan yang terbentang di depan mata kita, tapi ternyata kita buta …. Ada begitu banyak hal yang seharusnya bisa dididikkan menjadi kebiasaan kepada anak-anak kita sejak usia yang sangat dini, tetapi ternyata kita tidak peduli.

Apa lagi yang kita tunggu? Harus menjadi seberapa hancurkah dunia ini sebelum kita mulai bertindak?

Sekolah harus mulai memainkan peranannya, sekolah harus segera memodifikasi kurikulumnya untuk mengakomodasi kepentingan ini, sebuah kepentingan seluruh umat manusia! Inilah saatnya, jangan tunda lagi! Sekolah ada demi kemanusiaan, sekolah tidak boleh ada cuma demi penghidupan, tapi demi kemanusiaan!

Inilah saatnya! Mari, semua orang pasti bisa bertindak, dalam segala kapasitas maupun keterbatasannya, ada hal-hal dari yang kecil sampai yang besar yang bisa kita lakukan. Sejauh ruang lingkup kita, dengan segala daya kita, mari kita bertindak. Pakai pengaruh yang kita punya, pakai semua daya yang kita punya. Demi keberlangsungan Bumi, tempat tinggal kita; demi keberlangsungan umat manusia sendiri.

Jika tidak, maka kepunahan umat manusia jangan-jangan memang sudah di depan mata kita.

Sep
19
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 19-09-2007

Anak-anak yang kini duduk di bangku sekolah dibesarkan dengan Internet sebagai bagian dari realita kehidupan mereka. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang terbiasa mengaduk-aduk perpustakaan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, terbiasa untuk menggarap makalah dan laporan bacaannya dari sumber-sumber tercetak yang harus dipertanggungjawabkan, anak-anak pada masa kini terbiasa meng-google dan lantas melakukan copy + paste untuk tugas-tugas mereka, hanya dengan menambahkan identitas mereka pada halaman pertama.

Mereka tidak salah. Mereka hanya tidak tahu. Jangankan di Indonesia, ternyata di Amerika Serikat pun kasus semacam itu terjadi. Coleen Gillard, dalam makalahnya "Internet Research 101" yang dimuat di Harvard Education Letter Vol. 23 No. 5 mengutip turnitin.com, menyatakan bahwa tidak kurang dari sepertiga makalah di tingkat perguruan tinggi di negeri Paman Sam itu dinodai oleh plagiasi yang signifikan. Upaya untuk mendidik anak-anak ini selambat-lambatnya harus dimulai dari tingkat SMP, dan itu tidak mudah. Sulit sekali mengajarkan kepada anak-anak yang masih kecil itu bahwa plagiasi adalah sebuah pencurian, bahwa plagiasi adalah sebuah kejahatan. Dibutuhkan berulang kali penugasan riset dan evaluasi bersama untuk menyadarkan murid-murid penggunaan karya orang lain yang bagaimana yang disebut sebagai plagiasi dan yang bagaimana yang tidak.

Guru-gurulah yang bersalah. Semakin hari, semakin sering saya menjumpai guru-guru yang dengan lugunya menerima begitu saja makalah yang jelas-jelas dicetak langsung dari Internet tanpa melalui secuil pun pengeditan. Bahkan ada kalanya masih lengkap dengan blok kuning-biru-merah yang ditandai oleh Google sebagai kata-kata kunci yang digunakan dalam pencarian. Semakin sering saya menjumpai makalah-makalah semacam itu diberikan nilai yang baik, bahkan dipajang di mading.

Apa akibatnya? Sekolah-sekolah yang membiarkan murid-muridnya berperilaku demikian akan menjerumuskan mereka ke dalam kebobrokan yang besar. Bukan saja mereka akan menjadi orang-orang yang gampangan dalam meneliti, mereka juga akan menjadi plagiat-plagiat tanpa mereka sendiri sadari. Maka, betapa bersalahnya sekolah kepada murid-muridnya jika sekolah membiarkan tindakan plagiasi itu terjadi!

Internet telah menjadi realita kehidupan kita. Internet menyeruak masih ke dalam ruang kesadaran kita. Dan guru-guru yang dengan lugunya mengabaikan realita itu mungkin tidak merasakan suatu dampak bagi dirinya sendiri, tetapi dengan sikap tidak pedulinya itu ia akan menjerumuskan murid-muridnya ke dalam kesesatan yang luar biasa besar - suatu hal yang tentu lebih serius di era informasi elektronik ini dibandingkan dengan dahulu kala, di era perbukuan.

Keterampilan riset sosial, keterampilan memanfaatkan kekayaan Internet dengan optimal, sesuai perkembangan murid, adalah sebuah tuntutan perubahan yang perlu dijawab oleh kurikulum. Gillard sendiri mengutarakan bahwa pengajaran etiket penggunaan sumber daya yang tersedia di Internet untuk keperluan riset harus dilakukan di mata pelajaran yang terkait, dan dilakukan oleh guru mata pelajaran itu, bukan di dalam jam pelajaran komputer karena anak-anak akan sulit sekali memahami makna etiket itu serta dampaknya tanpa melalui proses revisi dan latihan yang berulang-ulang.

Guru-guru ilmu sosial, para pengampu kurikulum, para pembuat kebijakan, Anda harus bertindak! Realita kita sudah berubah, kurikulum pun harus disesuaikan! Para orang tua, jangan hanya sediakan akses Internet untuk anak-anak Anda, bimbing mereka, berikan mereka pengertian dan bantulah mereka menjadi cerdik cendekia yang bertanggung jawab. Jangan sampai terlambat!

Sep
19
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 19-09-2007

Menonton "Children of Men" karya Alfonso CuarĂ³n, tidak bisa tidak saya memikirkan kembali makna sebuah kehidupan. Untuk apa Julianne, Miriam dan Theo mengorbankan nyawa mereka demi sesuatu yang tak punya sangkut paut dengan kehidupan mereka?  Bahkan lebih dari itu: mereka mengorbankan kenyamanan hidup mereka, dan mereka meninggal dengan cara yang sangat tidak menyenangkan (terutama Miriam, walaupun Theo juga tahu dia bisa menderita dengan cara yang sama). Apa arti sebuah kehidupan yang Tuhan telah percayakan kepada kita masing-masing? Untuk apa kita gunakan itu semua?

Di sebuah persimpangan kehidupan, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang selalu patut diajukan kembali. "Untuk apa hidup saya ini?" Yaitu: kepada siapa saya serahkan hidup ini? Dengan cara bagaimana saya menggunakan hidup ini? Bagaimana saya memaksimalkan daya ungkit kehidupan saya yang cuma satu-satunya ini?

Adakah semua yang saya perjuangkan dengan berjerih-lelah, semua yang saya usahakan, semua itu membawa suatu dampak yang berarti dan bertahan? Atau, apa sebenarnya yang penting dan yang terpenting di dalam kehidupan? Dengan cara bagaimana saya akan menghabiskan kehidupan saya?

Keberanian melangkah keluar dari kenyamanan demi terengkuhnya suatu mimpi tidak pernah mudah. Keputusan untuk hidup yang tidak membiarkan diri dibawa arus "orang kebanyakan" adalah suatu perjuangan yang tak pernah berakhir … suatu hal yang melelahkan. Mungkin memang ada masanya ketika sabat itu harus dijalani, demi kewarasan, demi kebermaknaan, demi suatu daya ungkit yang maksimal.

Memikirkan ulang makna kehidupan nampaknya harus terus-menerus dilakukan, selangkah demi selangkah, hingga kita tiba pada penghujung kehidupan kita.