It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Shakespeare mengungkapkan, apatah arti sebuah nama, karena mawar, dengan apa pun namanya, tetap sewangi (dan seindah) itu.
Apa arti sebuah alamat?
Ada masanya saya mempunyai banyak pilihan untuk alamat korespondensi saya: alamat rumah, alamat kos, alamat kantor, alamat gereja. Ada empat pilihan yang sama-sama absah karena saya menghabiskan satu waktu yang signifikan di masing-masing tempat itu pada setiap minggunya. Korespondensi ke rumah lebih pasti diterima, tetapi juga bisa memakan waktu lebih lama karena faktor kode pos, juga saya hanya malam hari ada di rumah, sehingga surat-surat dan paket-paket baru bisa diterima dan dibaca pada malam hari, dengan sisa-sisa tenaga. Korespondensi ke sekolah diterima dengan lebih cepat, lebih praktis pula, tetapi harus melalui banyak tangan, dari satpam ke OB dst., juga ada risiko penundaan penerimaan di hari Sabtu dan Minggu.
Korespondensi ke kos juga lebih cepat daripada ke rumah, tetapi ada risiko ditelantarkan begitu saja, atau malah terbuang. Korespondensi ke gereja lebih-kurang memiliki keuntungan dan kekurangan sama dengan korespondensi ke kantor.
Tetapi pilihan alamat - di antara pilihan-pilihan bisa dikatakan yang setara - ternyata bermakna lebih dari sekedar kepraktisan, lebih dari sekedar perhitungan untung-rugi. Pilihan alamat juga menunjukkan identifikasi diri, sebuah identitas. Maka di saat ada kemelut, di saat ada permasalahan, saya juga memilih untuk mengganti alamat-alamat korespondensi saya.
Di antara pilihan-pilihan yang setara, alamat yang dituliskan bisa menunjukkan kecenderungan pribadi, kecondongan orientasi hidup, sebuah pernyataan diri.