Sep
21

Di Tepi Jurang Maut

Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 21-09-2007

Kita hidup di tepi jurang maut. Kita tidak pernah tahu kapan kematian tiba bagi kita. Kita tidak pernah tahu berapa banyak waktu yang tersisa bagi kita. Kita hanya bisa mengasumsikan berdasarkan kelaziman bahwa usia kita masih sekian puluh tahun lagi, atau sudah saatnya menghitung mundur. Istilah-istilah seperti "bau tanah" dan "tulang punggung" pun hanya didasarkan atas asumsi-asumsi semacam itu, bisa-bisa yang disebut tulang punggung meninggal lebih dulu daripada yang sudah bau tanah.

Tetapi seringkali kenyataan itu tidak dipahami maupun dihayati dengan baik di dalam kehidupan ini. Hanya ketika saat-saat maut melintas di hadapan kita, kita teringat, untuk kemudian lupa lagi. Kenyataannya nampaknya, semakin berisiko kehidupan yang dijalani, semakin nampak bagaimana Tuhan menyertai dengan cara yang luar biasa, bagaimana nyatanya bahwa semua yang "normal" ini terjadi sebagaimana adanya semata-mata karena pemeliharaan Tuhan.

Semakin lama dan semakin sering saya mengemudi, semakin sering saya disadarkan betapa banyaknya potensi bahaya yang mengancam saya dalam satu hari saja. Betapa banyaknya potensi senggolan, tabrakan, tubrukan, dan berbagai bencana lainnya yang bisa terjadi pada diri saya dan kendaraan yang saya bawa.

Jalanan kita penuh dengan orang-orang sakit, orang-orang yang kesulitan mengendalikan emosinya, yang menggunakan fasilitas umum itu sebagai tempat mengumbar emosi, tempat melampiaskan entah apa yang masih juga tak terlampiaskan dalam kehidupan mereka. Orang-orang yang gemar sekali mengklakson tanpa alasan, yang suka menyorot-nyorot dengan lampu dim-nya yang menyakitkan mata, orang-orang myopis yang tetap tidak sabaran walaupun melihat jalanan jelas-jelas sedang macet, belum lagi yang gemar berkendara dalam kegelapan tanpa menyalakan lampu kendaraannya.

Ketika satu hari lagi - bukan, bukan satu hari lagi - ketika satu perjalanan lagi diakhiri dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun, dengan tubuh dan kendaraan yang tetap prima, dengan emosi yang tetap baik, dengan tenang, aman dan sentosa, itu adalah satu bukti pemeliharaan Tuhan.

Satu perjalanan di mana kita terhindar dari perilaku-perilaku ugal-ugalan pengendara lain, terhindar dari berbagai akibat kecerobohan yang kita sendiri lakukan, terhindar dari berbagai bencana … semua itu adalah bukti pemeliharaan Tuhan.

Kehidupan yang kita jalani adalah kehidupan di tepi jurang maut. Kita tidak pernah tahu kapan sisi ini dari kehidupan akan kita akhiri. Tetapi selama kita di sisi ini, satu hal yang perlu selalu diingat, bahwa ketika semua tetap berjalan apa adanya, itu semata-mata karena pemeliharaan Tuhan. Satu kesadaran itu semata bisa mengubah banyak hal.



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: