It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Anak-anak yang kini duduk di bangku sekolah dibesarkan dengan Internet sebagai bagian dari realita kehidupan mereka. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang terbiasa mengaduk-aduk perpustakaan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, terbiasa untuk menggarap makalah dan laporan bacaannya dari sumber-sumber tercetak yang harus dipertanggungjawabkan, anak-anak pada masa kini terbiasa meng-google dan lantas melakukan copy + paste untuk tugas-tugas mereka, hanya dengan menambahkan identitas mereka pada halaman pertama.
Mereka tidak salah. Mereka hanya tidak tahu. Jangankan di Indonesia, ternyata di Amerika Serikat pun kasus semacam itu terjadi. Coleen Gillard, dalam makalahnya "Internet Research 101" yang dimuat di Harvard Education Letter Vol. 23 No. 5 mengutip turnitin.com, menyatakan bahwa tidak kurang dari sepertiga makalah di tingkat perguruan tinggi di negeri Paman Sam itu dinodai oleh plagiasi yang signifikan. Upaya untuk mendidik anak-anak ini selambat-lambatnya harus dimulai dari tingkat SMP, dan itu tidak mudah. Sulit sekali mengajarkan kepada anak-anak yang masih kecil itu bahwa plagiasi adalah sebuah pencurian, bahwa plagiasi adalah sebuah kejahatan. Dibutuhkan berulang kali penugasan riset dan evaluasi bersama untuk menyadarkan murid-murid penggunaan karya orang lain yang bagaimana yang disebut sebagai plagiasi dan yang bagaimana yang tidak.
Guru-gurulah yang bersalah. Semakin hari, semakin sering saya menjumpai guru-guru yang dengan lugunya menerima begitu saja makalah yang jelas-jelas dicetak langsung dari Internet tanpa melalui secuil pun pengeditan. Bahkan ada kalanya masih lengkap dengan blok kuning-biru-merah yang ditandai oleh Google sebagai kata-kata kunci yang digunakan dalam pencarian. Semakin sering saya menjumpai makalah-makalah semacam itu diberikan nilai yang baik, bahkan dipajang di mading.
Apa akibatnya? Sekolah-sekolah yang membiarkan murid-muridnya berperilaku demikian akan menjerumuskan mereka ke dalam kebobrokan yang besar. Bukan saja mereka akan menjadi orang-orang yang gampangan dalam meneliti, mereka juga akan menjadi plagiat-plagiat tanpa mereka sendiri sadari. Maka, betapa bersalahnya sekolah kepada murid-muridnya jika sekolah membiarkan tindakan plagiasi itu terjadi!
Internet telah menjadi realita kehidupan kita. Internet menyeruak masih ke dalam ruang kesadaran kita. Dan guru-guru yang dengan lugunya mengabaikan realita itu mungkin tidak merasakan suatu dampak bagi dirinya sendiri, tetapi dengan sikap tidak pedulinya itu ia akan menjerumuskan murid-muridnya ke dalam kesesatan yang luar biasa besar - suatu hal yang tentu lebih serius di era informasi elektronik ini dibandingkan dengan dahulu kala, di era perbukuan.
Keterampilan riset sosial, keterampilan memanfaatkan kekayaan Internet dengan optimal, sesuai perkembangan murid, adalah sebuah tuntutan perubahan yang perlu dijawab oleh kurikulum. Gillard sendiri mengutarakan bahwa pengajaran etiket penggunaan sumber daya yang tersedia di Internet untuk keperluan riset harus dilakukan di mata pelajaran yang terkait, dan dilakukan oleh guru mata pelajaran itu, bukan di dalam jam pelajaran komputer karena anak-anak akan sulit sekali memahami makna etiket itu serta dampaknya tanpa melalui proses revisi dan latihan yang berulang-ulang.
Guru-guru ilmu sosial, para pengampu kurikulum, para pembuat kebijakan, Anda harus bertindak! Realita kita sudah berubah, kurikulum pun harus disesuaikan! Para orang tua, jangan hanya sediakan akses Internet untuk anak-anak Anda, bimbing mereka, berikan mereka pengertian dan bantulah mereka menjadi cerdik cendekia yang bertanggung jawab. Jangan sampai terlambat!