Sep
21

KRL Ciujung dan Seribu Permasalahannya

Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 21-09-2007

Sekitar dua bulan yang lalu Presiden meresmikan jalur dan sistem kereta listrik yang baru: KRL Ciujung, menghubungkan Stasiun Tanah Abang hingga Stasiun Serpong dengan rel ganda dan sistem tiket elektrik seperti MRT di Singapura. Suatu kemajuan yang luar biasa, bahwa kini kereta menjadi semakin nyaman dengan kereta kelas ekonomi yang ber-AC dan berhenti di setiap stasiun sehingga orang tidak harus menunggu jam-jam tertentu untuk naik kereta yang nyaman seperti sebelumnya ketika hanya ada kereta kelas bisnis yang bertarif Rp8.000 sekali jalan tetapi hanya ada sekitar 4 kali sehari, dua kali di pagi hari dan dua kali di sore hari.

KRL Ciujung tersedia lebih dari 10 kali sehari. Dengan harga tiket Rp5.000, tentunya pengalaman berkereta menjadi lebih nyaman dan menyenangkan. Tetapi ternyata memang kita tidak bisa memungkiri bahwa kita masih tinggal di Indonesia. Tetap saja banyak penumpang gelap dan mereka yang berlagak bodoh, "salah naik" dsb. sehingga kereta menjadi kurang nyaman lagi. Bahkan pernah sekali saya tersiram air jeruk oleh seorang pengemis cilik yang seenaknya menyiramkan sisa minumannya di dalam kereta … parahnya, masih beraninya ia menggunakan gelas plastik yang baru dikosongkannya itu untuk meminta uang dari saya!

Satu hal yang paling parah - tetapi juga paling menyenangkan bagi saya - adalah kebodohan sistem pintu elektrik. Semula semua penumpang yang naik KRL Ciujung menggunakan tiket plastik yang di-scan di pintu elektrik, kemudian pintunya otomatis berputar (seperti pintu putar di Hero dan halte Transjakarta) dan orangnya pun bisa lewat. Hal yang sama dilakukan di stasiun tujuan, tetapi kemudian setelah melalui pintu itu tiketnya harus dikembalikan dengan cara dicemplungkan ke kotak yang tersedia. Betapa lemahnya sistem demikian, bukan? Ternyata benar, dalam seminggu pertama ada ribuan tiket yang dicuri dan mengakibatkan kerugian puluhan juta rupiah. Maka dalam minggu kedua langsung sistem pertiketan kembali ke kertas biasa. Kalau orang mau pakai tiket elektrik, harus bayar uang jaminan Rp15.000; untuk apa? Siapa yang mau?

Apa yang menyenangkannya? Saya biasa membeli abonemen, langganan bulanan. Abonemen KRL Ciujung berharga Rp170.000 untuk pembelian pertama, dengan Rp15.000 untuk uang jaminan dan Rp155.000 untuk 44 kali perjalanan, berarti sekitar Rp3.000 sekali naik. Lebih murah 40% kan? Ternyata lebih murah lagi, karena pintu itu jarang sekali dinyalakan sehingga saya cukup melewati pintu manual dengan menunjukkan tiket saya kepada petugas - yang tidak memegang scanner! - sehingga saldo saya tidak pernah berkurang. Saya berkelakar kepada beberapa orang, tiket saya berharga Rp170.000 untuk seumur hidup … :-)

Tapi ternyata kemudian sistemnya tiba-tiba diubah tanpa pengumuman. Hari ini saya didenda di atas kereta sebesar Rp10.000 (dua kali harga tiket) karena katanya tiket saya sudah kadaluarsa pada 1 September, padahal isinya masih lebih dari Rp100.000. Menyedihkan bukan keadaan kita? Sulit sekali bagi orang-orang itu untuk berpikir sistemik, mengubah sistem pun tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan …. Akhirnya saya membayar kembali perpanjangan tiket elektrik itu dan baru tahulah saya, sekarang sistemnya Rp155.000 untuk 30 hari, tidak peduli berapa kali pun pemakaiannya. Jadi, berikutnya tiket saya berlaku hingga 21 Oktober 2007. Saldo saya yang Rp100.000 lebih itu dianggap hangus dan pintu elektrik yang dibangun dengan biaya miliaran rupiah dengan dikebut dalam hitungan minggu, akhirnya menjadi mubazir ….

Itulah Indonesia.



1 Comment So Far

Martinus on 5 October, 2007 at 6:31 am #
    

Hmm … begitulah negeri kita ini, sistem secara manual saja belum tentu bisa berjalan dengan baik, apalagi kalau di otomatisasi, hasilnya malah tambah kacau. Terus terang sayang juga ya biaya beberapa M (!!!) itu dipakai cuma untuk membuat pintu elektrik. Lebih baik sebenarnya uang itu dipakai untuk memperbaiki gerbong-gerbong KRL/KRD yang sudah tidak keruan lagi kelengkapannya.

Kuis trivia :
Gimana cara membedakan antara KRL ekonomi & bisnis/eksekutif ?

Jawab :
Lihat saja pintunya, kalau saat kereta berjalan pintunya tertutup artinya kereta eksekutif/bisnis, kalau pintunya terbuka pasti kereta ekonomi.
Atau bisa juga lihat jendelanya, kalau tertutup artinya kereta eksekutif, kalau terbuka atau jendelanya hilang sebagian/sama sekali artinya kereta ekonomi.

(Aku baru minggu lalu ke Bekasi pulang pergi naik KRL, saat pulang gerbong yang dinaiki beberapa jendelanya sudah hilang (!!!) sama sekali … duh …)


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: