It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Ketika rasa letih dan jenuh melanda, ke mana kita bisa pergi di Jakarta ini? Ke mal? Ke bioskop? Rasanya kita dikondisikan agar semua rasa letih dan jenuh diatasi dengan kebisingan yang lebih besar lagi daripada kegundahan hati kita. Jakarta adalah kota yang miskin dengan taman kota, miskin dengan keasrian. Bahkan pohon-pohon besar dibabati di mana-mana ….
Sulit sekali rasanya mencari tempat yang asri di kota tercinta ini. Terakhir kali saya mengalami pergumulan yang cukup berat, saya ke Cipanas. Di Gunung Kasur-lah saya mengambil satu keputusan penting yang kemudian mengubah arah kehidupan saya. Kini saya tengah berada di tengah-tengah kegundahan yang serupa dan kembali, rasanya kegundahan hati dan kebisingan kota ini begitu menekan.
Saya hampir-hampir mengirimkan SMS kepada seorang kawan menanyakan, "… tempat untuk slowing down life’s pace di Jkt di mana ya? Ada ide? Lg stressed out nih." ketika saya menyadari, "O ya, itu sebenarnya bukan masalah dari luar, tetapi masalah di dalam diri saya." Sebenarnya bukan soal tempat mana, walaupun tempat bisa jadi sangat kondusif dan sangat membantu, tetapi ketika tempat itu belum bisa dijangkau, maka pertama-tama hati saya sendirilah yang harus saya tenangkan.
Ya, yang pertama-tama harus saya kelola adalah kesibukan saya. "Slowing down life’s pace" adalah suatu disiplin pribadi. Permasalahannya adalah apakah kita mau dan memang berniat menghadirkan keheningan dan kedamaian itu di dalam diri dan kehidupan kita, atau menyerah begitu saja pada arus kehidupan.
Akhirnya saya menemukan beberapa alternatif untuk melarikan diri dari kesibukan di kota besar ini, tetapi sayangnya saya masih harus menunggu beberapa minggu hingga ada waktu libur yang cukup panjang sehingga "slowing down"-nya bisa benar-benar terasa dan dihayati. Saya berharap beberapa teman yang saya ajak, semuanya bisa pergi sehingga kami bisa bersama-sama menggunakan waktu itu dalam kebersamaan yang indah dan saya juga bisa menggumulkan ulang arah kehidupan saya di persimpangan jalan ini.
Pada saat-saat seperti ini, rasanya saya siap meninggalkan Jakarta, kota yang begitu sumpek dan seringkali hanya menyedot energi kita tanpa bisa mengembalikan vitalitas, kecuali dalam bentuk pemuasan indera fisik. Jakarta, Jakarta ….