Sep
18

Pertobatan di Kala Senja

Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 18-09-2007

Tidak ada kata terlambat untuk bertobat. Memang. Tapi tidak berarti itu tanpa konsekuensi.

Dalam tahun-tahun belakangan ini saya menemukan beberapa orang yang bertobat di usia paruh bayanya. Life begins at 40, kata orang. Dan demikianlah, orang-orang itu sudah berada dalam kondisi mapan. Dan kemudian mereka bertobat! Apa yang terjadi? Seperti orang buta yang tiba-tiba bisa melihat, maka mereka pun merasa bahwa mereka perlu memberi tahu semua orang bahwa sekarang mereka sudah bisa melihat, dan dalam kemapanan mereka, mereka malah jadinya mendikte orang-orang tentang apa yang mereka lihat. Apa yang mereka lihat adalah yang benar. "Kebenaran" adalah apa yang mereka lihat. Kalau orang-orang melihat yang berbeda, maka orang-orang itulah yang salah.

Celakanya, mereka sudah berada pada posisi-posisi yang cukup tinggi - atau bahkan pada posisi-posisi puncak. Jadilah pertobatan mereka menjelma menjadi upaya untuk menobatkan seluruh sistem dan semua orang di dalamnya. Mereka melihat bahwa sistem itu adalah sistem yang berdosa, orang-orangnya terlibat di dalam tindakan dosa yang diakomodasi oleh sistem, lingkaran setan keberdosaan terus berputar dan menjalar … atau setidaknya begitulah persepsi mereka.

Maka, sesuai keyakinan mereka, tugas dan panggilan merekalah untuk membenahi semua permasalahan itu, memberantas semua dosa dan memberangus setiap suara sumbang. Tidak ada yang namanya pendapat kedua. Semua dosa harus diberantas. Celaka yang paling celakanya, mereka tidak bisa melihat bahwa mereka justru sedang berbuat dosa terbesar yang bisa dibuat: mereka menjadikan diri mereka sendiri dan sistem yang mereka pimpin sebagai Tuhan.

Ya, di tempat di mana seharusnya Tuhan ada, mereka menempatkan diri mereka. Penafsiran yang lain terhadap pribadi dan kehendak Tuhan tidak boleh ada. Dalam upaya mereka memberantas "dosa", mereka justru berbuat dosa yang begitu fatal dan mengerikan …. Sungguh tragis!

Satu hal yang nampaknya harus betul-betul dipunyai adalah hati seorang murid yang mau belajar. Kemapanan dan status sosial mereka tidak berarti mereka bisa mencuri start dalam kehidupan beriman mereka. Tetap saja, ketika seorang baru bertobat, kehidupannya sebagai orang beriman dimulai lagi di tempat di mana setiap orang memulai, tidak ada implikasi dari kemapanan dan status sosial mereka.

Kerendahan hati sangat penting di sini. Pertobatan di kala senja memang tidak terlambat, tetapi dibutuhkan upaya dan perjuangan yang jauh lebih keras untuk mencapai hasil yang sama dibandingkan dengan orang-orang yang telah sejak lebih awal menapaki jalan itu.



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: