Nov
04

Ketika Kegelapan Bersinar

Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 04-11-2007

"Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar
apa yang kau ingini sendiri
     dan memuaskan hati orang yang tertindas
maka terangmu akan terbit dalam gelap
     dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari
TUHAN akan menuntun engkau senantiasa
     dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering
     dan akan membaharui kekuatanmu;
engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik
     dan seperti mata air yang tidak pernah
     mengecewakan."

– Yesaya 58:10-11

Adalah kalimat yang lebih aneh lagi daripada kalimat ini: "kegelapanmu
akan seperti rembang tengah hari"? Bagaimana mungkin kegelapan akan
menjadi seperti rembang tengah hari (= siang bolong)? Dan kalimat ini:
"TUHAN akan memuaskan hatimu di tanah yang kering … seperti taman
yang diairi dengan baik"?

Minggu-minggu belakangan ini merupakan minggu-minggu yang cukup berat
dan menggelisahkan. Berbagai pergumulan kehidupan datang dalam waktu
yang hampir bersamaan sebagai sebuah efek domino yang dibuat semakin
intensif oleh liburan lebaran yang panjang. Berbagai pemikiran datang
silih berganti. Keputusan dibuat. Tekad dibulatkan. Tetapi tetap saja
ada elemen-elemen yang mengganjal.

Persiapan-persiapan khotbah yang dibawakan di akhir Oktober dan awal
November ternyata agak membantu, ditambah pula dengan pesan-pesan yang
luar biasa yang Tuhan sampaikan bertubi-tubi, hari demi hari, melalui
saat teduh. Salah satunya adalah kedua ayat di atas.

Memang benar bahwa seorang bisa belajar lebih banyak ketika ia
mengajarkan satu hal daripada ketika ia sendiri belajar seorang diri.
Maka bukan hanya di dalam momen-momen penyiapan khotbah, tetapi bahkan
di saat membawakan khotbah-khotbah itu Tuhan berbicara dengan lebih
lantang.

Khotbah-khotbah yang saya bawakan bertema sekitar 490 tahun Reformasi
Gereja oleh Martin Luther yang jatuh pada 31 Oktober 1517. Dalam salah
satu khotbah itu saya juga memberikan proporsi yang cukup besar untuk
menceritakan biografi Dr. Paul Brand dan Dr. Margaret Brand, sepasang
suami-istri yang luar biasa.

Sudah menjadi sebuah bagian dari kenangan, pengalaman dan pengajaran
Gereja bahwa St. John of the Cross mengalami apa yang disebutnya
sebagai the dark night of the soul, ‘kelamnya malam bagi jiwa’ selama
1,5 bulan. Bunda Teresa dikisahkan juga mengalami hal yang sama - hanya
saja selama 50-an tahun! Kekelaman jiwa dan pergumulan yang besar
merupakan satu hal yang nampaknya menjadi salah satu karakteristik
penting teolog-teolog besar Gereja.

Martin Luther sendiri adalah seorang yang eksentrik karena di tengah
kehidupan biara yang demikian saleh ia masih bergumul dengan
dosa-dosanya yang dirasanya begitu mencekam dan Iblis menguasai
dirinya. Kawan-kawannya pun sampai bertanya-tanya kenapa ia harus
bergumul sedemikian rupa sedangkan Luther sudah dipandang sebagai
seorang yang paling saleh di antara para rahib lainnya. Kalau ia yang
paling saleh masih bergumul demikian rupa, bagaimana dengan selebihnya
dari para rahib itu? Mereka pun memandangnya sebagai orang yang terlalu
banyak bergelut dengan - terlalu menganggap serius - dosa dan
keberdosaan.

Paul Brand dan Margaret Brand saya kenal melalui sebuah DVD yang
dipinjamkan seorang sahabat untuk menghibur hati saya di tengah
kekalutan pergumulan batin saya. Mereka adalah dokter-dokter Inggris
yang merupakan lulusan terbaik pada angkatan mereka (Margaret pertama,
Paul kedua). Mereka bisa mendapatkan pekerjaan terbaik di Inggris
dengan penghasilan yang luar biasa besar tetapi mereka memilih menjadi
dokter-misionaris di India. Di India mereka dipanggil Tuhan untuk
melayani kaum penderita kusta, yaitu orang-orang yang dibuang oleh
masyarakat, oleh pemerintah, bahkan oleh sanak-saudara dan keluarga
mereka sendiri.

Ada banyak hal yang menarik dan menggelorakan batin, menonton kisah
hidup mereka, saya pikir setiap orang yang tengah menggumulkan
panggilan Tuhan di dalam kehidupan mereka akan sangat diberkati dengan
menonton film ini.

Tetapi satu di antara banyak hal yang ajaib adalah di dalam perjalanan
pelayanan mereka di India, ternyata Tuhan menggunakan banyak hal dari
masa lalu mereka. Misalnya, upaya Paul untuk melarikan diri dari
bayang-bayang ayahnya yang juga adalah seorang dokter-misionaris dengan
mencoba menjadi pembangun rumah sebelum ia akhirnya menyerah kepada
panggilan Tuhan dan menjadi dokter, pun dipakai oleh Tuhan dengan cara
yang menakjubkan sehingga ia menjadi seorang dokter yang istimewa
dengan kemampuan rehabilitasi medik yang belum pernah dimiliki orang
sebelumnya.

Yang menegur saya: mereka menyerahkan semuanya untuk Tuhan dan pergi ke
pedalaman India di mana pemerintah pun hanya bersedia menyediakan
sebidang tanah yang gersang untuk tempat mereka mengadakan fasilitas
kesehatan - untuk rakyat India sendiri! Tetapi pada akhirnya Paul dan
Margaret Brand menjadi ahli-ahli yang paling terpandang di bidang
mereka masing-masing. Paul di bidang penyakit kusta dan Margaret di
bidang penyakit mata yang berhubungan dengan kusta. Mereka menjadi
dokter-dokter yang mempelopori kemajuan riset dan ilmu di bidang-bidang
mereka - dari pedalaman India! Bukan dari pusat riset dengan pendanaan
raksasa di AS, bukan dari universitas-universitas besar, bukan dari
rumah sakit terpandang di kota-kota penting dunia. Mereka membuang diri
ke ladang Tuhan dari dari sana Tuhan meninggikan derajat mereka di
hadapan manusia.

Paul Brand telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Ketika
diwawancarai, Margaret Brand mengatakan, "Apa yang bisa saya banggakan?
Kalau Tuhan tidak memakai kami, Dia toh bisa bekerja melalui
orang-orang lain. Justru kami harus bersyukur karena kamilah yang
dipilih oleh Tuhan sehingga kami hidup dari petualangan ke petualangan.
Hidup kami adalah hidup yang penuh petualangan. Dan apa yang bisa kami
banggakan? Tidak ada. Benar-benar tidak ada …."

Betapa malunya saya! Ternyata selama ini saya bukannya membuang diri ke
ladang Tuhan, saya hanya sedang membuat sebuah pengungkit, saya hanya
membuang jala! Untuk apa membuang jala? Supaya saya bisa menariknya
kembali dan mendapatkan banyak ikan! Betapa memalukan!

St. John of the Cross, Martin Luther, Bunda Teresa, Paul Brand dan
Margaret Brand. Orang-orang ini adalah orang-orang yang bergumul banyak
di dalam kehidupan mereka. Mereka melakukan hal-hal yang tidak populer
atau terlibat di dalam pergumulan-pergumulan yang eksentrik bagi banyak
orang. Mereka memusingkan hal-hal yang bagi banyak orang tidak perlu
dipusingkan sama sekali. Tetapi kekelaman hidup mereka ternyata di
kemudian hari menjadi terang bagi banyak orang.

Kalimat-kalimat di atas ternyata tidaklah seaneh yang nampak dari
pembacaan sekilas. Sejarah Gereja telah membuktikannya. Kekelaman jiwa
seorang yang dekat dengan Tuhannya akan menerangi kehidupan banyak
orang. Ada kalanya kita bertanya, "Tuhan, kenapa saya harus mengalami
pergumulan ini? Kenapa saya tidak bisa hidup nyaman-nyaman dan
santai-santai saja seperti orang-orang lainnya?" Karena melalui kita
Tuhan ingin menerangi dunia. Karena melalui kegelapan pergumulan yang
kita lewati itulah kebenaran Tuhan akan menerangi kehidupan banyak
orang.

Di tengah kekeringan pergumulan batin yang kita alami Tuhan bekerja
dengan cara yang luar biasa, memuaskan diri kita menjadi seperti taman
yang diairi dengan baik, seperti mata air yang tidak pernah
mengecewakan. Di manakah itu akan terjadi? Di taman yang rindangkah?
Tidak. Itu akan terjadi ketika kita mengikuti pimpinan Tuhan, bahkan di
tanah yang kering dan tandus sekalipun.

Tuhan bekerja dengan cara yang tak terduga oleh pemikiran dan pemahaman
kita. Yang dituntut dari kita adalah agar kita taat dan setia. Ke mana
pun Tuhan memimpin. Sebab kegelapan yang kita alami akan menjadi terang
bagi banyak orang. Dan kekeringan yang kita alami akan menjadi mata air
yang menyejukkan dan melepaskan dahaga banyak jiwa.



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: