It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Dengan asumsi saya akan hidup 70 tahun - dan tetap produktif hingga tahun ke-70 itu, maka saya sudah melalui hampir 40% dari masa hidup saya, 40% yang sekali-pakai dan tidak bisa didaur ulang. HUT GKK yang ke-80, 11 Januari 2008, bertepatan dengan hari ke-10.000 dalam hidup saya. Tidak sedikit hari-hari yang sudah saya lalui. Tapi … apa yang sudah saya capai?
Saya merasa tidak ada apa-apanya. Akankah impian-impian saya menjadi kenyataan? Nampaknya, langkah-langkah strategis yang saya ambil selama ini terasa salah … apakah ini hanya sindrom-di-tengah-perjalanan atau benar-benar sebuah kesalahan? Apakah ada langkah-langkah lain yang lebih efektif dengan daya ungkit yang lebih besar yang seharusnya sudah saya ambil? Bagaimana dengan apa yang sudah terjadi selama ini?
Satu hal yang saya yakini, apa yang telah terjadi tidak saya sesali. Tetapi, mungkinkah saya "menebus" kerugian potensial yang tidak berhasil saya dapatkan hingga sejauh ini?
Semakin lama semakin saya menyadari - dan ini benar-benar memfrustrasikan - betapa sedikitnya yang saya ketahui, betapa sedikitnya yang saya kuasai, betapa banyaknya hal-hal yang seharusnya sudah saya kuasai! Betapa berbedanya sistem pendidikan yang saya jalani di Indonesia ini dengan sistem pendidikan yang dijalani orang-orang di Eropa Barat dan Amerika Serikat … belum lagi melihat sistem pendidikan di universitas-universitas mereka!
Bagaimana ketertinggalan ini dapat dikejar? Lagipula, apa sih yang sebenarnya saya kejar dalam hidup ini?
Sekonyong-konyong, hidup jadi terasa begitu menjemukan, begitu tidak berarti, begitu memfrustrasikan …. Apa yang bermakna di dalam kehidupan ini? Adakah sesuatu yang pantas dikejar? Dan kalau itu dikejar, bisakah kita benar-benar menangkapnya? Atau, apakah pengejaran itu tidak akan berakhir?
Apa makna di balik kehidupan ini? Apa sih yang disebut dengan "mengisi kehidupan"?
Sejauh mana di dalam kehidupan kita bisa membuat perencanaan dan sejauh mana kita harus berpuas diri dengan melangkah hanya satu demi satu, tanpa pernah mengetahui belokan berikutnya, tanpa pernah memahami keseluruhan skemanya …? Akankah pengejaran ini suatu saat berakhir?
Seberapa besar prestasi yang bisa dicapai seorang manusia dalam masa hidupnya yang singkat? Seberapa banyak kita bisa menafikan faktor lingkungan, faktor "keberuntungan", faktor-faktor pembentuk masa lalu kita? Adakah semua itu bisa dikompensasikan di masa kini dan mendatang? Seberapa jauh seorang harus berjuang mengkompensasikan masa lalunya?
Perjuangan hidup ternyata bukan sebuah entitas tunggal … pertama-tama perlu ada perjuangan untuk mengkompensasikan masa lalu, kemudian perjuangan untuk mencukupkan masa kini dan barulah perjuangan untuk meraih masa depan. Tapi masalahnya, yang pertama pun sudah sangat sulit. Haruskah itu diabaikan? Cukupkah kita berjuang langsung kepada yang ketiga? Pantaskah kalau yang kedua pun diabaikan? Tapi sampai kapan? Bukankah itu bagian dari tanggung jawab menjadi seorang dewasa?
Ketika kaki kita terikat pada pada lalu dan tangan kita terikat pada masa kini, masih mungkinkah kita meraih kemenangan atas masa depan? Yang mana dari belenggu-belenggu itu yang harus dilepaskan terlebih dulu?
Aaarrrggghhh … what a life! Damn, it’s so frustrating, so tiring! What should I be obsessed with all this, anyway? … But I just can’t get myself off the hook ….
It’s Christmas eve. And I’m full of anger and disappointment. Finally, it seems high time that I should accept my family for what they are - and for what they’re not, in that matter. All these years, I’ve been day dreaming that my family is an ideal family. One in which only the things of Phil. 4:8 are in the air. That would be a family I could take pride in.
But all these years all I’ve done is only fooling myself. Most of the piety we have is nothing but nonsense - it’s all just a kind of public performance. The greed is all too abound to neglect. Even the small things have become small rocks in my shoes. I’m greatly disturbed but paralysed by the fact. It seems there’s nothing I can do.
Driving back home from the church with my family, I honked several times - all of them totally unnecessary honks.
Even at this age, I’m still pondering about accepting the reality of being a member of just-another-average-family. It hurts me, it disappoints me. Though there are many things I could take pride in, somehow I just feel that these are all not enough.
My life has been one full of delusions.
My family is just another average family. Its members are but another human beings with all their mediocrities. It hurts to be forced to swallow these facts. Maybe that’s why I prefer to be on my own, to be detached from my past, to be detached from all that’s been known as the shaper of my past.
I like to be free. And I love dreaming of true detachment from all I detest. I just wish it could all come true.
But in the meantime, I suppose I need to get things done with my anger.
Mengawali musim liburan Natal ini saya berkenalan dengan satu
keluarga yang luar biasa, keluarga seorang sahabat saya. Dan dari
perkenalan itulah blog ini terinspirasi. Dalam proses menuliskan blog
ini saya sebenarnya juga tengah berupaya mendefinisikan "satu hal" yang
terus-menerus mengganggu pikiran saya tahun demi tahun, berupaya
mencari tahu apa apa sebenarnya "satu hal" itu, "satu hal" yang juga
tengah saya gumulkan untuk menjadi topik tesis saya. Saya berharap para
pembaca bisa memberikan tanggapan atas tulisan ini … dengan harapan
kegelisahan saya tentang "satu hal" itu sekurang-kurangnya akan dapat
terdefinisi dengan lebih baik.
1. Manusia Memilih
Setiap orang dilahirkan dengan bakat, minat dan kombinasi kompetensi
yang unik. Dalam bahasa awamnya, orang seringkali mengatakan bahwa
setiap orang "punya kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri".
Setiap orang juta disodorkan kepada serangkaian kesempatan yang unik
dalam rentang waktu hidupnya. Bagi kita, tugas kita adalah memilih.
Pilihan kita memimpin kita menapaki kehidupan - pilihan demi pilihan,
belokan demi belokan, langkah demi langkah - setiap orang dalam
perannya sendiri dan dengan citranya sendiri yang unik. Ketika melihat
kehidupan seseorang lain ada kalanya kita melihat potensi yang luar
biasa dan kemampuan yang luar biasa - jauh di atas rata-rata - di dalam
bidang-bidang tertentu. Ada orang yang sangat pintar bermain drama, ada
yang sangat berbakat musik, ada yang sangat jago dalam Matematika dan
Sains, ada yang bisa berolah raga dengan luar biasa. Ketika melihat
kehidupan orang-orang semacam itu kita (atau mungkin lebih tepat:
saya?) mengharapkan orang itu untuk menekuni bidang tersebut hingga
menjadi ahli di bidang tersebut.
Seorang kawan saya Melinda
memiliki suara yang sangat indah. Kami biasa mengatakan, kalau ia
melatih vokalnya, ia bisa memiliki suara sekelas Whitney Houston pada
puncak kejayaannya. Ia juga seorang yang sangat jago dalam ilmu-ilmu
eksakta. Tetapi kemudian ia memilih masuk ke FISIP dan kemudian menjadi
produser di radio. Ketika suatu kali saya membawa seorang murid
berkonsultasi karier dengannya, Melinda bertanya kenapa murid itu tidak
ingin meneruskan usaha papanya seraya mengatakan bahwa kalau papanya
punya usaha sendiri, ia akan memilih untuk melanjutkan usaha papanya
daripada bekerja seperti sekarang ini. Sejauh yang saya tahu, Melinda
tidak pernah melatih vokalnya maupun mendalami ilmu-ilmu eksakta yang
dalam pandangan kami merupakan bidang di mana ia bisa dengan mudah
menjadi orang yang diperhitungkan.
Melinda adalah sebuah kasus
yang moderat yang tidak mengganggu pikiran saya karena kenyataannya toh
ia berhasil juga menjadi produser yang andal. Tetapi di dalam masa
hidup saya yang singkat ini saya juga sudah menjumpai beberapa orang
yang rasanya begitu mudahnya menyia-nyiakan kesempatan berharga di
dalam hidup mereka. Mereka memiliki bakat yang luar biasa, mereka
memiliki bukan satu atau dua, tetapi banyak kesempatan yang luar biasa,
yang tidak begitu saja berlari tetapi dihadapkan kepada mereka tahun
demi tahun … tanpa pernah mereka ambil. Bakat yang luar biasa,
kesempatan yang luar biasa, semua disia-siakan ….
Alih-alih
semua itu, mereka lebih memilih jalan mediokritas - menjadi biasa-biasa
saja, cukup meneruskan toko orang tuanya, alih-alih menjadi ilmuwan;
cukup menjadi karyawan biasa, alih-alih merintis jalan menjadi pakar.
Dan setiap kali melihat hal semacam itu terjadi, rasanya miris sekali
hati ini.
2. Pilihan-Pilihan yang Disayangkan
Tapi, kenapa perasaan itu harus muncul? Kenapa saya harus menyayangkan
pilihan-pilihan yang mereka buat itu? Apa kerugian saya? Apa kerugian
kita? Siapa yang rugi? Adakah yang rugi? Jangan-jangan itu adalah alat
yang memang Tuhan pakai sebagai kendali atas kemajuan umat manusia?
Seringkali saya, kalau bukan selalu, beranggapan bahwa keberbakatan
seseorang adalah petunjuk bagi jalan hidupnya. Tetapi, bagaimana kalau
ternyata tidak demikian?
Apakah keberbakatan seseorang harus
kita paksakan menjadi jalan hidupnya? Tidak bolehkah seorang yang
berbakat memilih jalan hidup yang "biasa-biasa saja"? Sekedar
"meneruskan toko Papa", sekedar berupaya menggelembungkan nilai
aset-asetnya sambil mencari pasangan kemudian menikah punya anak dan
menikmati masa tua? Tidak bolehkah?
Kalau tidak boleh,
bukankah kita hanya akan membuat bakat-bakatn itu menjadi sebuah
kutukan dalam hidupnya? Bagaikan di film-film X-Men dan Heroes,
keberbakatan seseorang bisa berbalik menjadi penjara virtual bagi diri
sendiri bukan?
Haruskah kita memaksa seorang yang berbakat
untuk hidup melawan arus? Atau, jangan-jangan mereka adalah korban
belaka, yaitu orang-orang yang menjadi tumbal gara-gara masyarakat yang
tidak mampu menghargai keberbakatan mereka di bidang-bidang yang unik
tersebut? Orang-orang non-arus utama ini sepertinya harus memilih
antara hidup pas-pasan dan memenuhi panggilan hidup mereka di satu sisi
atau di sisi lainnya hidup mapan dalam mediokritas dan membiarkan semua
bakat mereka mati kelaparan karena tidak pernah dilatih maupun
dikembangkan.
3. Umat yang Dirugikan
Umat
manusia dan kemanusiaan mengalami kerugian potensial akibat
berlian-berlian kasar yang potensinya tak terasahkan ini. Kebudayaan
kita yang seharusnya bisa berkembang dengan sangat pesat pada akhirnya
terhambat karena bakat-bakat yang Tuhan sudah berikan kepada kita di
dalam diri orang-orang ini tidak bisa dikembangkan. Tapi untuk
merealisasikan potensi keuntungan itu umat manusia harus berupaya
dengan menciptakan suatu sistem sosial yang memadai dan kondusif bagi
orang-orang berbakat ini, agar jangan sampai mereka hanya dijadikan
sapi perah bagi kemajuan umat manusia tanpa mereka sendiri bisa
menikmatinya, suatu hal yang banyak kita lihat dalam diri
ilmuwan-ilmuwan di Indonesia pada saat ini. Dalam hal itu, bahkan
terkadang tanpa mereka sadari, bakat mereka telah menjadi kutukan
mereka: mereka yang bekerja keras, masyarakat yang menikmati.
4. Orang-Orang yang Berani
Tetapi tetap saja kita melihat ilmuwan-ilmuwan itu tetap ada dari
generasi ke generasi, demikian juga budayawan-budayawan,
seniman-seniman … ada orang-orang yang berani mengambil
keputusan-keputusan yang tidak populer yang membawa hidup mereka ke
arah yang kurang nyaman. Siapa orang-orang ini? Apa yang dibutuhkan
untuk menghasilkan orang-orang semacam ini?
Pilihan yang
pertama bagi saya adalah selamanya pemerintah harus bertanggung jawab
untuk menciptakan suatu sistem sosial dan membentuk suatu masyarakat
yang memadai dan kondusif bagi orang-orang berbakat itu agar mereka
terkondisikan untuk tertarik mendalami bidang di mana mereka berbakat
itu dan mengembangkan diri mereka sehingga menghasilkan karya-karya
besar bagi umat manusia. Pemerintah memberikan beasiswa dan pemerintah
juga memberikan gaji yang memadai bagi mereka untuk berkarya secara
maksimal. Kepentingan hidup orang banyak dan kemajuan kemanusiaan kita
adalah tanggung jawab pemerintah-pemerintah yang tidak seyogianya
dipercayakan kepada tangan-tangan swasta.
Tetapi di
tempat-tempat seperti Indonesia di mana terjadi disfungsi sistem-sistem
sosial dan kemandulan masyarakat kita untuk menghasilkan suatu generasi
yang lebih baik, saya menduga bahwa ada tiga faktor yang dibutuhkan:
keberbakatan, kapabilitas mental dan panggilan. Keberbakatan sendiri
tidak akan cukup. Dibutuhkan juga kapabilitas mental untuk
mendisiplinkan diri, memberanikan diri untuk mengaktualisasikan diri
kendati inpopularitas pilihan itu serta ketekunan untuk tetap konsisten
dalam perjuangan melawan arus. Yang ketiga, panggilan, mengimplikasikan
sensitivitas rohani yang baik.
Dengan kehadiran ketiganya,
tentangan masyarakat tidak akan menjadi masalah yang berarti. Tapi
memang, keberbakatan sendiri tidak akan memadai.
Sayang, memang …. Tetapi mungkin itulah cara Tuhan mengendalikan kemajuan umat manusia?